nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Puluhan Warga Karanganyar Menderita DBD, 1 Meninggal

Agregasi Solopos, Jurnalis · Rabu 12 Februari 2020 14:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 12 512 2167321 puluhan-warga-karanganyar-menderita-dbd-1-meninggal-WUVA5x0UJW.jpg Ilustrasi pasien demam berdarah dengue. (Foto: Shutterstock)

KARANGANYAR – Sebanyak 33 warga Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menderita demam berdarah dengue (DBD). Sementara 1 orang di antara puluhan warga tersebut meninggal akibat penyakit ini. Angka tersebut tercatat pada periode awal Januari hingga 10 Februari 2020.

Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar menyatakan angka terbanyak warga yang terserang DBD berada di Kecamatan Jumantono. Jumlahnya mencapai 10 orang. Rinciannya pada Januari ada delapan orang dan Februari ada 2 orang.

Baca juga: DBD Tewaskan Satu Warga, Pemkot Kupang Siap Siaga 

"Itu data update hingga Senin 10 Februari. Untuk 2020 memang paling banyak di Jumantono. Sampai saat ini sudah ada 10 warga yang kena. Untuk keseluruhan Januari ada 25 kasus dan Februari 8 kasus," jelas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DKK Karanganyar Katarina Iswati, seperti dikutip dari Solopos, Rabu (12/2/2020).

Ia melanjutkan, sedangkan 1 warga yang meninggal akibat DBD berasal dari Kecamatan Gondangrejo.

"Kasus meninggal juga ada. Tapi untuk identitas, alamat, kami tidak bisa membuka karena terkait etika. Tapi hingga kemarin data yang masuk ke kami 1 yang meninggal akibat DBD," ungkapnya.

Baca juga: Puluhan Orang di Badung Bali Terjangkit Demam Berdarah 

Jika dibandingkan 2019 dengan total 800 kasus, penyebaran DBD di Kabupaten Karanganyar menunjukkan penurunan. Penyebaran DBD kali ini merata, tapi tidak dalam jumlah yang masif hingga Februari.

"Pantauan kami sepertinya akan menurun angkanya. Karena walaupun menyebar, jumlahnya hanya satu atau dua. Paling banyak cuma di Jumantono itu," terangnya.

Terkait langkah penanggulangan, DKK Karanganyar berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan puskesmas melakukan edukasi kepada masyarakat.

Baca juga: Cegah DBD, Warga Rusun Diimbau Lakukan Penghijauan di Lingkungannya 

Selain itu, pengasapan (fogging) dan penyelidikan epidemiologi juga dilakukan di daerah yang sudah terjadi kasus penularan lebih dari 2 orang.

"Yang terpenting edukasi, karena banyak warga yang lupa kalau potensi jentik-jentik nyamuk DBD juga ada di penampungan air belakang kulkas dan dispenser. Kebanyakan hanya tahu di toilet. Kami juga sudah fogging di Jumapolo untuk pencegahan," bebernya.

Baca juga: Waspada Siklus 5 Tahunan Demam Berdarah! 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini