Pakar AS Sebut Pandemi Virus Korona Covid-19 Tidak Bisa Dihindari

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 26 Februari 2020 18:27 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 26 18 2174564 pakar-as-sebut-pandemi-virus-korona-covid-19-tidak-bisa-dihindari-Km2PEggFhX.jpg Foto: Okezone.

WASHINGTON – Pakar dari Amerika Serikat (AS) memperingatkan bahwa pandemi virus korona baru, atau Covid-19, tidak dapat dihindari dan penyakit itu akan menyebar ke seluruh dunia. Hal itu disampaikan setelah wabah Covid-19 di Iran, Italia dan Korea Selatan menunjukkan peningkatan tajam.

Penyakit yang diyakini berasal dari pasar yang menjual satwa liar di kota Wuhan, China itu mewabah sejak akhir tahun lalu dan hingga kini telah menginfeksi sekira 80.000 orang, menewaskan lebih dari 2.700 orang, sebagian besar di China.

BACA JUGA: Kasus Virus Korona di Korsel Bertambah 169, Lebih dari 1.100 Dikonfirmasi

Pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendesak agar negara-negara dunia bersiap untuk menghadapi kemungkinan terjadinya pandemi.

Sementara di AS, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) juga mendesak warga Amerika untuk bersiap, mengatakan bahwa meski risiko langsungnya rendah, situasi global menunjukkan kemungkinan pandemi.

“Ini bukan pertanyaan jika. Ini adalah pertanyaan tentang kapan dan berapa banyak orang yang akan terinfeksi," kata Wakil Direktur Utama CDC, Anne Schuchat, sebagaimana dilansir Reuters pada Rabu (26/2/2020). Sejauh ini AS telah melaporkan 57 kasus virus korona yang dikonfirmasi.

Dr. Bruce Aylward, kepala misi gabungan WHO-China yang menangani wabah Covid-19 itu, mengatakan kepada wartawan sekembalinya ke Jenewa bahwa persiapan tidak harus menunggu.

“Pikirkan virus akan muncul besok. Jika Anda tidak berpikir seperti itu, Anda tidak akan siap,” katanya.

"Ini adalah epidemi yang meningkat dengan cepat di berbagai tempat yang harus kita atasi dengan sangat cepat untuk mencegah pandemi."

BACA JUGA: Jumlah Kematian Virus Korona di Seluruh Dunia Capai 2.764

Laporan terakhir menunjukkan peningkatan jumlah kasus di beberapa negara, termasuk Korea Selatan dengan 1.261 kasus, Jepang dengan lebih dari 800 kasus, Iran 139 kasus, dan Italia dengan 322 kasus.

Kasus-kasus di Iran, Italia, dan Korea Selatan juga terkait dengan kasus-kasus lain termasuk di Aljazair, Spanyol, Bahrain, Kuwait, Swiss, dan Israel.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini