nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

2 Kakak Kelas yang Paksa 77 Siswa SMP Makan Kotoran Manusia Dikeluarkan dari Sekolah

INews.id, Jurnalis · Rabu 26 Februari 2020 14:56 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 26 340 2174415 2-kakak-kelas-yang-paksa-77-siswa-smp-makan-kotoran-manusia-dikeluarkan-dari-sekolah-w6e48QHBeM.jpg Suasana Pertemuan Antara Orangtua Murid dengan Pihak Sekolah atas Dugaan Bullying di SMP Seminari Bunda Segala Bangsa, Maumere, Sikka (foto: iNews/Joni Nura)

SIKKA - Dua orang kakak kelas Sekolah Seminari Maria Bunda Segala Bangsa di Maumere Ibu Kota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meminta 77 siswa SMP makan kotoran manusia atau fases dikeluarkan dari sekolah.

Pimpinan Seminari Maria Bunda Segala Bangsa RD Deodatus Du’u mengungkapkan, dengan kerendahan hati menyampaikan permohonan maaf sedalam-dalamnya kepada semua pihak, khususnya kepada orang tua dan keluarga para siswa SMP kelas VII atas kejadian tersebut.

Baca Juga: 77 Siswa SMP di Sikka NTT Dipaksa Makan Kotoran Manusia oleh Kakak Kelas 

“Bagi kami peristiwa ini menjadi pembelajaran untuk melakukan pembinaan secara lebih baik di waktu yang akan datang,” ujar Deodatus dalam keterangan resminya, Selasa 25 Februari 2020.

Dia menjabarkan, kronologi kejadian ini bermula saat dua senior dari kelas XII yang ditugaskan menjaga kebersihan kelas VII menemukan feses dalam plastik di lemari kosong kamar tidur kelas VII pada Rabu 19 Februari 2020. Keduanya kemudian memanggil semua siswa kelas VII dan mengumpulkan mereka.

Kakak kelas ini bertanya siapa pelaku dan meminta kejujuran mereka. Karena tidak ada yang mengaku, kedua kakak kelas menghukum dan mengambil kotoran tersebut menggunakan sendok. Lalu menyentuhkan pada bibir siswa kelas VII. Perlakuan berbeda pada masing-masing anak. Mereka kemudian berpesan agar tak menceritakan kejadian itu kepada siapapun.

Namun salah satu siswa menceritakan kepada orang tuanya hingga akhirnya kejadian ini terungkap. Tak terima para orang tua murid tersebut datang ke sekolah dan meminta pertanggungjawaban sekolah, pada Jumat 21 Februari 2020. Selanjutnya digelar pertemuan antara sekolah dan para orang tua siswa, Selasa kemarin.

“Dalam pertemuan itu, Seminari secara terbuka telah meminta maaf atas peristiwa yang terjadi kepada orang tua. Sekaligus memberi sanksi tegas kepada kedua kakak kelas,” tutur dia.

Bahkan sebagai bentuk pembinaan, kedua kakak kelas tersebut dikeluarkan dari Seminari Maria Bunda Segala Bangsa.

“Untuk para siswa kelas VII juga dibuat pendapingan dan pendekatan lebih lanjut oleh pembina (Romo dan Frater) untuk pemulihan mental dan menghindari trauma,” ujarnya.

Sementara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) prihatin dengan tindakan hukuman makan kotoran manusia yang dialami 77 siswa Sekolah Seminari Maria Bunda Segala Bangsa di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"KPAI menyampaikan keprihatinan atas pemberian sanksi terhadap 77 siswa untuk memakan feses. Bahkan KPAI mengutuk hal tersebut jika memang benar dilakukan,” kata Komisioner KPAI Retno Listyarti melalui keterangan tertulisnya.

Retno mengatakan, untuk mendalami kasus tersebut, KPAI akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kantor Wilayah Kementerian Agama setempat, mengingat sekolah tersebut adalah sekolah keagamaan.

KPAI juga akan mengajak dinas terkait di Pemda Sikka yakni P2TP2A dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) untuk melakukan pengawasan langsung terhadap sekolah tempat 77 siswa itu belajar.

Baca Juga: Bocah yang Ingin Bunuh Diri Usai Di-Bully Derita Dwarfisme 

“Karena anak-anak korban pastilah mengalami trauma sehingga perlu mendapatkan rehabilitasi psikologis dan juga medis,” ujar Retno.

Dia menegaskan, kasus bullying ini ada pelanggaran terhadap UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Oleh karena itu KPAI mendorong adanya proses hukum dan berharap agar pelaku dan guru di sekolah seminari tersebut diperiksa secara hukum.

“Jika memang terbukti maka KPAI mendorong para orangtua anak korban melaporkan perbuatan tersebut ke pihak kepolisian,” ucap Retno menegaskan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini