Masker Langka, Pemkot Jayapura Ancam Cabut Izin Apotek "Nakal"

Edy Siswanto, Okezone · Kamis 05 Maret 2020 08:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 05 340 2178408 masker-langka-pemkot-jayapura-ancam-cabut-izin-apotek-nakal-0dbreO9RNA.JPG Wakil Wali Kota Jayapura, H Rustan Satu (Foto: Okezone.com/Edy Siswanto)

JAYAPURA - Pasca-pengumuman Presiden Joko Widodo (Jokowi) ihwal terjangkitnya dua orang warga Depok, Jawa Barat oleh Virus Covid-19, berbagai warga di penjuru nusantara memburu masker di apotek-apotek. Atas kondisi ini, hampir di seluruh daerah mengalami kelangkaan masker, termasuk di Kota Jayapura, Papua.

Sejak pengumuman itu, ketakutan warga Kota Jayapura atas penyebaran virus yang telah membunuh ribuan orang di seluruh dunia ini meningkat. Berdasarkan pantauan, hampir semua apotek yang ada di Jayapura dan sekitarnya masker ludes terjual.

Melihat kondisi ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura turun langsung melakukan pengecekan ke distributor masker di Kota Jayapura. Hasilnya, tiga distributor masker kehabisan stok.

"Kita sudah melakukan pengecekan kepada distributor yang memiliki izin, yakni PT Rajawali dan PT Anugrah, semua stok habis," ucap Wakil Wali Kota Jayapura, H Rustan Satu, Rabu 4 Maret 2020.

Kondisi ini terjadi akibat distribusi dari produsen masker di Jakarta juga habis. Sehingga, terjadi kelangkaan di tingkat distributor. "Jadi dari keterangannya di Jakarta juga habis, sehingga di tingkat distributor masker kosong," tambahnya.

Rustan menambahkan, berdasar keterangan dari pihak distributor, terakhir mereka melakukan distribusi ke apotek-apotek di Jayapura pada Jumat lalu, yakni dengan jumlah per apotik masing-masing 10 boks, dengan jumlah per boks sebanyak 50 pcs.

"Kita akan mengecek pemberian jatah itu, apakah betul mereka sudah terima atau sudah habis. Kekosongan stok masker ini persoalan dan kira carikan solusi," tuturnya.

Pemkot Jayapura juga mengingatkan kepada pihak-pihak yang mencoba menimbun atau menyimpan masker tersebut dengan tujuan spekulasi harga.

"Jangan ada yang ketimbun atau menyimpan barang ini untuk spekulasi harga. Harga jangan dinaikkan. Karena dari sumber masker standar Rp40 ribu dan masker yang bertali Rp800 rupiah. Sementara di tingkat pengecer harus dijual dihargai Rp2.000. Tidak boleh lebih," tegasnya.

Jika nantinya ditemukan ada apotek yang menjual di atas harga maka pihaknya mengancam akan mencabut izin usaha apotek tersebut.

"Sekarang kita minta diturunkan, jika tetap (dinaikkan) maka kami akan peringatkan, sampai kita cabut izinnya," tutup Rustan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini