Polisi Bongkar Perdagangan Masker Ilegal di Kepulauan Riau

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Kamis 05 Maret 2020 21:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 05 340 2178867 polisi-bongkar-perdagangan-masker-ilegal-di-kepulauan-riau-LyHFcUFpiU.jpg Polisi bongkar perdagangan masker ilegal di Kepulauan Riau. (Foto : Ist)

JAKARTA – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kepulauan Riau membongkar praktik perdagangan masker ilegal. Dalam kasus ini, polisi menyita 6.130 kotak masker ilegal yang disimpan di Kompleks Pergudangan Endukit, Kota Batam.

Kabid Humas Polda Kepulauan Riau, Kombes Harry Goldenhardt menuturkan, awalnya pihaknya sidak ke apotek di kawasan Nagoya, Kota Batam. Di sana stok masker kosong sejak sebulan terakhir.

“Sidak pertama pada hari ini dilaksanakan di Apotek Budi Farma Nagoya, Kota Batam. Dari hasil sidak bersama stakeholder terkait tidak ditemukan stok atau persediaan masker selama hampir satu bulan,” kata Harry dalam keterangannya kepada Okezone, Kamis (5/3/2020).

Selanjutnya, rombongan menuju gudang di kawasan Orchid Business Centre, Kota Batam. Petugas menemukan 6.130 kotak berisi masker kesehatan tanpa standar dari Kementerian Kesehatan dan tanpa izin edar.

Polisi gerebek pabrik Masker Ilegal di Senen, Jakpus. (Foto: Okezone.com/Achmad Fardiansyah)

“Dari tim teknis Ditreskrimsus Polda Kepri yang dipimpin Kombes Hanny Hidayat menemukan adanya dugaan tindak pidana mengedarkan tanpa izin alat kesehatan jenis masker yang tidak memenuhi standar kesehatan," ucap Harry.

Ia menjelaskan, 6.130 kotak tersebut terdiri atas berbagai merek. Ada yang berisi 50, ada pula yang berisi dan 100 lembar masker.

"Keseluruhan masker yang ditemukan berasal dari China. Sampai hari ini Ditreskrimsus Polda Kepri masih memeriksa inisial A sebagai Direktur PT SJL," ucapnya.


Baca Juga : Polisi Gerebek Pabrik Masker Ilegal Beromzet Rp4,7 Miliar di Senen Jakpus

Atas tindakannya, pelaku diduga melanggar Pasal 196 dan/atau pasal 197 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dia terancam pidana maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp1,5 miliar.

“Pelaku terancam dipidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp1,5 miliar,” tuturnya.


Baca Juga : Pabrik Masker Beromzet Rp4,7 Miliar Jual Produknya Secara Online

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini