KLATEN – Gunung Merapi mengalami erupsi pada Selasa 3 Maret 2020, sekira pukul 05.20 WIB. Semburan awan panas yang ditimbulkan pun mencapai ketinggian 6.000 meter. Kemudian sebagian daerah di Jawa Tengah terdampak hujan abu.
Terkait musibah ini, sebagian warga lereng Gunung Merapi ada yang bergegas keluar rumah dan melihat semburan awan panas tersebut. Salah satunya adalah Jenarto (40), warga Dukuh Ngemplak, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten.
Baca juga: BNPB Sebut Erupsi Gunung Merapi Masih Terpantau Aman
Kediamannya hanya berjarak 5 sampai 6 kilometer dari Puncak Merapi. Dia melihat dengan jelas asap membumbung dari Puncak Merapi membentuk cendawan besar. Sesekali kilatan petir tampak dari balik asap yang terus membesar.
Ia mengungkapkan warga di kampungnya tenang ketika melihat erupsi Merapi. Mereka berdiri di sepanjang tepi jalan utama Dukuh Ngemplak dan memusatkan pandangan ke puncak Merapi sambil berbicara satu sama lain.
Ketika erupsi mereda, warga kembali ke rumah masing-masing dan melakukan aktivitas biasa, seperti mencari rumput dan menambang pasir secara manual.
Dia mengatakan, warga sudah terbiasa dengan fenomena erupsi Merapi akhir-akhir ini. Sebelum terjadi pada Selasa pagi, erupsi Merapi juga berlangsung pada Kamis 13 Februari 2020.
Selain sudah terbiasa dengan erupsi Merapi yang terjadi akhir-akhir ini, warga Ngemplak tampak tenang lantaran sering mendapat edukasi.
Baca juga: Aneh! Wilayah Selo yang Berjarak 5 Km dari Puncak Merapi Tak Tersentuh Abu Vulkanis
Petugas BPPTKG beberapa kali diundang untuk menyampaikan sosialisasi tentang erupsi Merapi. Seperti dalam kumpul-kumpul warga dan pengajian.
"Selama masih level Waspada itu tetap beraktivitas seperti biasa, tidak perlu dievakuasi. Baru ketika nanti Siaga mulai persiapan dan ketika naik level ke Awas dievakuasi," jelasnya, Selasa 3 Maret 2020, dikutip dari Solopos.