nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Merapi Erupsi, Warga Lereng Sudah Terbiasa tapi Tetap Hati-Hati

Agregasi Solopos, Jurnalis · Kamis 05 Maret 2020 09:59 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 03 05 512 2178431 merapi-erupsi-warga-lereng-sudah-terbiasa-tapi-tetap-hati-hati-pLqbObIKDS.jpg Warga Deles, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, nonton bareng erupsi Gunung Merapi. (Foto: Taufiq Sidiq Prakoso/Solopos)

KLATEN – Gunung Merapi mengalami erupsi pada Selasa 3 Maret 2020, sekira pukul 05.20 WIB. Semburan awan panas yang ditimbulkan pun mencapai ketinggian 6.000 meter. Kemudian sebagian daerah di Jawa Tengah terdampak hujan abu.

Terkait musibah ini, sebagian warga lereng Gunung Merapi ada yang bergegas keluar rumah dan melihat semburan awan panas tersebut. Salah satunya adalah Jenarto (40), warga Dukuh Ngemplak, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten.

Baca juga: BNPB Sebut Erupsi Gunung Merapi Masih Terpantau Aman 

Kediamannya hanya berjarak 5 sampai 6 kilometer dari Puncak Merapi. Dia melihat dengan jelas asap membumbung dari Puncak Merapi membentuk cendawan besar. Sesekali kilatan petir tampak dari balik asap yang terus membesar.

Ia mengungkapkan warga di kampungnya tenang ketika melihat erupsi Merapi. Mereka berdiri di sepanjang tepi jalan utama Dukuh Ngemplak dan memusatkan pandangan ke puncak Merapi sambil berbicara satu sama lain.

Ketika erupsi mereda, warga kembali ke rumah masing-masing dan melakukan aktivitas biasa, seperti mencari rumput dan menambang pasir secara manual.

Dia mengatakan, warga sudah terbiasa dengan fenomena erupsi Merapi akhir-akhir ini. Sebelum terjadi pada Selasa pagi, erupsi Merapi juga berlangsung pada Kamis 13 Februari 2020.

Selain sudah terbiasa dengan erupsi Merapi yang terjadi akhir-akhir ini, warga Ngemplak tampak tenang lantaran sering mendapat edukasi.

Baca juga: Aneh! Wilayah Selo yang Berjarak 5 Km dari Puncak Merapi Tak Tersentuh Abu Vulkanis 

Petugas BPPTKG beberapa kali diundang untuk menyampaikan sosialisasi tentang erupsi Merapi. Seperti dalam kumpul-kumpul warga dan pengajian.

"Selama masih level Waspada itu tetap beraktivitas seperti biasa, tidak perlu dievakuasi. Baru ketika nanti Siaga mulai persiapan dan ketika naik level ke Awas dievakuasi," jelasnya, Selasa 3 Maret 2020, dikutip dari Solopos.

Jenarto juga mengatakan sikap warga di kampungnya tetap berada di tepi jalan selama ancaman erupsi Merapi belum membahayakan. Pasalnya posisi Dukuh Ngemplak berada di daerah paling ujung wilayah Kecamatan Sidorejo.

"Kalau warga kami turun (menyelamatkan diri), otomatis warga kampung di bawah kami ikut-ikutan turun dan panik. Makanya kami sebisa mungkin tetap berada di kampung ketika erupsi itu belum membahayakan agar warga di wilayah bawah kampung kami tidak panik," ungkapnya.

Baca juga: 6 Penerbangan di Bandara Adi Soemarmo Dibatalkan Imbas Erupsi Merapi 

Meski warga dipastikan tenang, dia tidak menampik ada sebagian orang yang tetap panik dan berusaha menyelamatkan diri dengan menjauhi kampung. "Tapi mereka tetap bisa ditenangkan warga lainnya," urai dia.

Jenarto mengatakan warga di kampungnya tetap waspada. Hampir setiap malam mereka menggelar ronda malam untuk antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi erupsi Merapi.

Kegiatan itu dilakukan sejak level aktivitas Merapi meningkat dari Normal ke Waspada pada 21 Mei 2018. "Prinsip kami boleh terbiasa, namun tidak boleh terlena," ungkapnya.

Baca juga: Warga Klaten Nonton Bareng ketika Terjadi Erupsi Gunung Merapi 

Sementara Sukiman, warga Dukuh Deles, Desa Sidorejo, juga menegaskan warga di lereng Merapi terutama wilayahnya tetap tenang meski erupsi terjadi pada Selasa pagi.

“Warga justru sibuk setelah erupsi reda. Mereka bergegas menutup tandon air karena khawatir airnya kotor terkena hujan abu. Ternyata tidak ada hujan abu di wilayah kami," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini