nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rumah Dinas Wali Kota Semarang Jadi Ruang Isolasi Pasien Corona

Taufik Budi, Jurnalis · Jum'at 27 Maret 2020 09:18 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 03 27 512 2189694 rumah-dinas-wali-kota-semarang-jadi-ruang-isolasi-pasien-corona-zmbKFj5RRc.jpg Ruang isolasi untuk pasien gejala virus corona. (Foto: Dok Okezone/Arif Julianto)

SEMARANG – Rumah Dinas Wali Kota Semarang diubah menjadi ruang isolasi untuk merawat pasien kasus corona virus disease atau covid-19. Dalam waktu dekat kamar-kamar isolasi tersebut sudah bisa digunakan dan dipastikan sesuai standar kesehatan.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan progres pembangunan diperkirakan telah mencapai 70 persen. Dia optimistis ruang isolasi yang dibangun di rumah dinas maupun Gedung Pendidikan dan Pelatihan Pemerintah Kota Semarang siap dioperasikan pada 30 Maret.

"Kalau kemarin sudah 50 persen, saya rasa hari ini sudah mencapai 70 persen. Mereka mengatakan Sabtu fisik siap, tinggal nanti dimasukkan semua peralatan," terangnya, Kamis 26 Maret 2020.

"Saya cek terus kedua tempat itu sampai Minggu besok, baik Diklat maupun rumah dinas, sehingga Senin tanggal 30 nanti bisa siap kalau akan digunakan untuk keperluan penanganan covid-19," tegasnya.

Info grafis update jumlah pasien virus corona per 26 Maret 2020. (Foto: Okezone)

Dia menjelaskan dua tempat tersebut disiapkan sebagai antisipasi jika terjadi lonjakan pasien dan tidak bisa ditampung rumah sakit. Selain itu bisa pula dimanfaatkan untuk orang dalam pemantauan (ODP) yang tidak bisa menjalani karantina di rumahnya.

"Terkait ruang karantina dan isolasi dua tempat yang sudah ditunjuk yaitu Diklat dan rumah dinas itu akan dibagi dua. Kalau Diklat karena di situ fungsinya untuk meng-cover RS Wongso Negoro nanti akan dijadikan ruang karantina, artinya ada ODP yang mungkin rumahnya tidak memenuhi syarat, dia akan dirujuk ke situ dimasukkan di ruang karantina selama 14 hari. Makan-minumnya disiapkan kita," terangnya.

"Kemudian di rumah dinas ini, karena sudah ada amdalnya dan limbahnya juga sudah dibangun, di situ kemungkinan ini memang untuk pasien-pasien yang PDP, tapi tidak dalam sebuah PDP yang akut. Jadi yang tidak perlu insenerator atau belum sampai sesak napas. PDP dia demam tapi situasinya normal, kita masukkan situ," pungkasnya.

(han)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini