Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Polemik Penghentian KRL, Antara Cegah Corona hingga Cari Nafkah

Salman Mardira , Jurnalis-Jum'at, 17 April 2020 |16:37 WIB
 Polemik Penghentian KRL, Antara Cegah Corona hingga Cari Nafkah
KRL (Okezone.com/Arif)
A
A
A

SULAEMAN resah dengan rencana penghentian operasional KRL Commuterline untuk mendukung pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jabodetabek.

Jika benar terwujud, maka ayah dua anak ini bakal kesulitan mencari transportasi untuk berangkat kerja ke Jakarta dari tempat tinggalnya di Rangkas Bitung, Lebak, Banten.

"Saya sudah terbiasa dari rumah ke tempat kerja menggunakan KRL. Kalau KRL berhenti beroperasi saya tidak bisa ke mana-mana," katanya kepada Okezone, Jumat (17/4/2020).

Baca juga: Anies Minta Luhut Hentikan Operasional KRL

Sulaeman bekerja sebagai satpam sebuah lembaga keuangan di Cempaka Putih, Jakarta Pusat dan wajib ke kantor hampir saban hari meski di tengah pandemi Covid-19.

Selama ini transportasi andalannya adalah KRL karena lebih murah dan bebas macet. Jika naik angkot, maka harus beberapa kali nyambung dan ongkosnya lebih mahal, belum lagi macet. Naik ojek juga sama boros.

Sementara Sulaeman tak punya sepeda motor, tak bisa juga mengendarainya.

"Saya tidak bisa pilihan lagi kalau KRL jadi berhenti, kalau orang bilang pake aja motor saya enggak bisa pake motor. Sedangkan saya harus cari nafkah untuk keluarga. Bukan hanya cari makan tapi cari biaya keperluan lainnya," ujarnya.korona

Doni Suhendra (30) mengeluh hal serupa. Warga Bekasi itu juga mengandalkan KRL untuk berangkat kerja ke Jakarta.

“Kita bingung pas kemarin dapet informasi KRL mau disetop sementara. Karena kantor enggak libur, pakai sistem sehari masuk sehari enggak," ujar karyawan sebuah perusahaan farmasi itu.

Dayat bersikap berbeda. Warga Parung Panjang, Bogor itu setuju operasional KRL dihentikan sementara mengingat lokomotif listrik ini banyak digunakan warga dan berisiko menyebarkan Covid-19.

“Satu sisi sangat setuju (disetop KRL) karena dengan begitu secara pribadi saya bisa menerapkan kebijakan di rumah saja atau bekerja di rumah secara penuh. Namun, di sisi yang lain prihatin dengan saudara yang pekerjaannya mengharuskan untuk ke luar rumah dan KRL jadi pilihan transportasi paling memadai,” katanya.

Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syarif Abdullah Alkadrie menilai penghentian sementara KRL bisa efektif menekan penyebaran corona. “Penyetopan KRL langkah yang sangat efektif,” katanya.

Tapi, harus disediakan transportasi alternatif terutama untuk pekerja. “Perusahaan bisa menyediakan angkutan supaya bisa pegawai,” ucapnya.

Baca juga: KRL Hanya Beroperasi hingga Pukul 18.00 WIB saat PSBB 

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah menilai, operasional KRL belum bisa diberhentikan, karena masih ada usaha beroperasi di tengah corona. “Ini bukan lockdown, ini PSBB. Jadi itu salah konsep (kalau disetop KRL), nanti digugat masyarakat kelenger juga itu.”korona

Menurutnya menghentikan KRL beroperasi tak efektif memutus penyebaran corona, karena orang masih bisa menggunakan kendaraan lain. “Misal KRL enggak ada. Terus dia naik motor, kan bisa menularkan juga ke temen kerjanya?” ujar Trubus.

“Jadi kalau mau efektif, perusahaannya ya harus tutup semua. Jadi Permenkes dan Pergub DKI itu diubah lagi. Semua ditutup semua. Tapi kalau itu yang terjadi namanya lockdown.”

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement