Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Lenyapnya Bisnis Triliunan Disebabkan Pandemi Corona

Salman Mardira , Jurnalis-Rabu, 22 April 2020 |22:01 WIB
Lenyapnya Bisnis Triliunan Disebabkan Pandemi Corona
Warga menatap bangunan hotel di Jakarta (Okezone.com/Arif Julianto)
A
A
A

Sementara, survei Jurnal Entrepreneur menunjukkan, sebanyak 96% pelaku UKM mengaku sudah mengalami dampak negatif COVID 19 terhadap proses bisnisnya. Sebanyak 75% di antaranya mengalami dampak penurunan penjualan yang signifikan.

Tak hanya itu, 51% pelaku UKM meyakini kemungkinan besar bisnis yang dijalankan hanya akan bertahan 1 bulan hingga 3 bulan ke depan. Sebanyak 67% pelaku UKM mengalami ketidakpastian dalam memperoleh akses dana darurat, dan 75% merasa tidak mengerti bagaimana membuat kebijakan di masa krisis.

Hanya 13% pelaku UKM yakin bahwa mereka memiliki rencana penanganan krisis dan menemukan solusi untuk mempertahankan bisnis mereka.

Sedangkan menurut data tahun 2017 dari Kementerian Koperasi dan UMKM menunjukkan sektor konveksi, restoran dan perhotelan menyerap tenaga kerja hingga 97%, sekaligus penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 60%.

Sedangkan jumlah UMKM yang tersebar di Indonesia sebanyak 62,9 juta unit yang meliputi perdagangan, pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, pertambangan, pengolahan, bangunan, komunikasi, hotel, restoran dan jasa-jasa.

Rental Mobil Lesu

Bisnis rental mobil juga terkena imbas corona. Omset mereka anjlok karena menurunnya pengguna jasa akibat pembatasan aktivitas warga.

"Orderan benar-benar sepi, tidak ada yang mau sewa mobil mewah. Banyak orderan yang sudah di-booking terpaksa cancel gara-gara adanya virus corona," kata Sunardi, pemilik rental mobil mewas Syafira Rental seperti dikutip dari iNews.id.Virus corona

Sebelum pandemi corona, Sunardi bisa mendapatkan omzet hingga Rp20 juta sebulan, karena rata-rata mobilnya yang dirental mencapai 15 hingga 20 unit. Tapi, sekarang nyaris tak ada.

Rental mobil biasanya juga panen rezeki saat Lebaran, karena ada banyak orang menyewa mobil untuk liburan atau bepergian dengan keluarga. Tapi, larangan mudik yang sudah diputuskan pemerintah berdampak buruk juga bagi bisnis ini.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistura menilai, pandemi corona berdampak luas terhadap ekonomi, bukan saja level usaha besar, tapi juga UMKM. Larangan mudik juga bisa memerdalam krisis.

"Karena bisa dibayangkan banyak pelaku usaha khususnya yang levelnya UMKM itu berharap adanya putaran uang saat lebaran. Itu mereka mempersiapkan ini hingga empat bulan sebelumnya, bahkan sebelum corona," kata Bhima.

Menurutnya saat Lebaran ada puluhan triliun uang dari pusat mengalir ke daerah-daerah terutama lewat arus mudik. Perputaran uang ini berdampak baik bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Namun, adanya larangan mudik bisa menghambat itu.

"Ini kan yang repotnya ketika momentum satu tahun sekali ini dihambat dengan aturan dilarang mudik, berarti pemerintah juga harus bertanggungjawab."

Menurutnya pemerintah harus memperbanyak stimulus ekonomi dan pemberian bantuan tepat sasaran. Bantuan langsung tunasi dibutuhkan untuk menjaga daya beli.

(Salman Mardira)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement