Laporan itu menyatakan penyebab utama kelaparan di dunia adalah konflik, perubahan iklim, dan krisis ekonomi. Dikatakan bahwa Afrika adalah benua yang terkena dampak terburuk, diikuti oleh Asia dan Amerika Latin.
"Jika kita tidak membantu, nyawa mereka terancam. Jadi, jika kita tidak membantu, mereka akan meninggal. Setiap hari dalam keadaan normal ada sekitar 21.000 orang yang meninggal karena kelaparan. Setiap hari [meninggal] bukan karena COVID-19, seorang anak meninggal setiap 10 detik karena kurang gizi,” tutur Kepala Ekonom Program Pangan Dunia Arif Husain mengutip VOA.
Husain mengatakan tindakan cepat harus diambil untuk membantu penduduk di negara-negara itu dan negara lain yang berisiko.

“Kita tidak boleh melupakan sektor pertanian. Kita memiliki cadangan yang baik sekarang, tetapi jika rantai pasokan berhenti dan benih, pupuk dan lain-lain tidak sampai ke petani atau petani tidak bisa pergi ke ladang mereka, apa yang akan terjadi tahun depan? Tahun depan, kita benar-benar akan kekurangan pangan, dan itu harus kita hindari,” kata dia.
Di daerah kumuh terbesar di Nairobi, ibu kota Kenya, warga yang putus asa menyerbu pembagian tepung dan minyak goreng, menyebabkan banyak orang terluka dan dua orang tewas.
"Kami tidak punya uang, dan sekarang kami harus bertahan hidup," kata Pauline Karushi, yang kehilangan pekerjaannya, dan tinggal bersama anaknya dan empat kerabat lainnya, mengutip NY Times.
Freddy Bastardo, yang sudah tidak bekerja sebagai penjaga keamanan di Caracas, Venezuela, hanya berharap mendapat bantuan dari pemerintah selama wabah virus corona. Di negara ini, sebelum virus corona mewabah, konflik telah menyebabkan kelaparan di seleuruh negeri.
Bastardo mengatakan bahwa jatah bantuan yang disediakan pemerintah, setiap dua bulan sekali, sebelum krisis COVID-19, telah lama habis.
"Kami berencana menjual barang-barang yang tidak kami gunakan di rumah untuk bisa makan," kata Bastardo. "Saya punya tetangga yang tidak punya makanan,” lanjut dia lagi.
Souzan, ibu dua anak berusia 50 tahun yang tingal di Beirut, Lebanon mengaku bahwa situasi akibat wabah corona di Lebanon lebih parah daripada perang. "Kami belum pernah melihat hari-hari gelap ini," kata Souzan mmengutip Al Jazeera.