Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jeritan Pedagang Kecil saat PSBB di Surabaya Diterapkan

Avirista Midaada , Jurnalis-Selasa, 28 April 2020 |12:20 WIB
 Jeritan Pedagang Kecil saat PSBB di Surabaya Diterapkan
Foto Ilustrasi Okezone
A
A
A

SURABAYA – Sejumlah pedagang di Surabaya khawatir kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang diterapkan pemerintah guna mencegah penyebaran Covid-19 di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, membuat usahanya semakin berdampak.

Salah seorang pedagang buah di Pasar Pagesangan, Surabaya M. Subeki menyatakan tetap akan memilih berjualan di tengah pandemi corona yang mewabah.

“Ya mau enggak mau harus tetap buka jualan, kalau ditutup nanti saya sekeluarga mau makan apa penghasilannya dari sini (jualan buah),” ujar Subeki kepada Okezone, Selasa (28/4/2020).

 PSBB

Pria yang akrab disapa Beki ini mengaku sudah mendapat pemberitahuan dari pihak kelurahan setempat, dan Polsek Jambangan terkait pembatasan jam operasional.

“Kalau biasanya saya buka hampir 24 jam, tapi ini semenjak ada corona apalagi mulai hari ini PSBB di Surabaya dibatasi mulai jam 04.00 – 21.00 WIB,” terang pria kelahiran Bojonegoro ini.

Meski tetap buka, ia mengungkapkan bila omzet dagangannya turun cukup tajam semenjak adanya penyebaran corona yang berimbas pada pembatasan fisik dan pembatasan sosial yang diterapkan Pemkot Surabaya.

“Sejak ada corona ini penjualan turun tajam, ya sekitar 70 persen turunnya,” ucapnya.

Ia khawatir, kebijakan PSBB yang diterapkan pemerintah guna mencegah penyebaran corona, semakin membuat omzet dagangannya tambah merosot.

“Kemarin sebelum ada PSBB saja sudah turun hampir 70 persen lebih, apalagi ini ada PSBB bisa – bisa lebih parah lagi. Nggak tahu nanti rencananya enggak kulakan lagi, menghabiskan buah yang ada dulu. Biar gak tambah rugi,” tuturnya.

Beki menyayangkan, belum adanya bantuan yang diterimanya, bahkan keringanan pembayaran sewa kios pasar dan pembayaran beban listrik pun tak diterimanya.

“Alasannya karena digunakan usaha tidak ada potongan listrik, sewa kios juga tidak ada potongan sama sekali, tetap dibayar enam bulan sekali. Kasihan pedagang kecil – kecil pada mengeluh di sini,” bebernya.

Lain Subeki, lain pula Anis Nur Hidayah, pedagang makanan lalapan di kawasan Wonokromo Surabaya ini mengaku pasrah omzet dagangannya menurut tajam.

“Sebelum ada PSBB sudah turun hampir 80 persen. Apalagi saya biasanya jualannya malam, puasa ini tambah menurun apalagi nanti kalau ada PSBB saya pasrah,” keluhnya, saat dihubungi.

 PSBB

Anis panggilan akrabnya, berharap pemerintah memberikan solusi pedagang kecil sepertinya ini. Di tengah pandemi corona, ia tak jarang harus kucing – kucingan dengan petugas yang melakukan penyisiran saat malam hari.

“Memang kami telah melakukan anjuran pemerintah untuk menyarankan pembeli dibungkus, tapi tidak semuanya mau. Kadang mereka terpaksa makan di sini, cuma pas ada petugas kadang ya kasihan masih makan diobraki (dibubar),” jelasnya.

Dua pedagang tersebut menjadi potret dari banyak pedagang yang terkena efek adanya pandemi corona ini.

“Semoga saja wabah corona ini segera berakhir biar kita itu bisa berjualan normal lagi, masyarakat juga tidak takut lagi kalau keluar – keluar,” pungkasnya.

(Awaludin)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement