Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

COVID-19, Ini Beberapa Vaksin dan Obat yang Diuji untuk Sembuhkan Corona

Rahman Asmardika , Jurnalis-Minggu, 03 Mei 2020 |16:01 WIB
COVID-19, Ini Beberapa Vaksin dan Obat yang Diuji untuk Sembuhkan Corona
Ilustrasi. (Foto: Reuters)
A
A
A

DI TENGAH pandemi global Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona, para ilmuwan berusaha menemukan vaksin untuk menangkal penyebarannya. Mereka berusaha secepat mungkin mendapatkan pengobatan untuk penyakit yang telah menjangkiti lebih dari 3 juta orang di seluruh dunia dan menyebabkan dampak besar bagi kehidupan manusia itu.

Proses pencarian vaksin tidak mudah dan terkadang membutuhkan waktu yang sangat panjang, bahkan hingga beberapa dekade, seperti upaya menemukan vaksin virus HIV yang menyebabkan penyakit AIDS yang sampai hari ini masih belum ada.

Namun, dalam beberapa bulan ini, telah ada beberapa pengobatan potensial dan vaksin yang dikembangkan untuk merawat pasien yang terinfeksi virus corona. Sejumlah vaksin juga telah memasuki tahap uji coba, bahkan ada obat anti virus yang sudah diizinkan untuk digunakan untuk merawat pasien Covid-19.

Berikut beberapa pengobatan dan vaksin untuk virus corona yang tengah dalam pengembangan atau digunakan dalam perawatan virus corona.

Remdesivir

Obat antivirus yang diproduksi oleh perusahaan bioteknologi Amerika Serikat (AS) Gilead Sciences ini awalnya digunakan untuk mengobati penyakit Ebola dan virus-virus sejenisnya. Obat ini bekerja dengan menghentikan replikasi virus, dan pernah diuji untuk mengobati penyakit itu di Kongo pada tahun lalu.

Pengujian yang dilakukan terhadap 1.063 pasien Covid-19 di AS menunjukkan bahwa pasien yang diberikan remdesivir pulih lebih cepat, rata-rata dalam 11 hari, dibandingkan pasien yang tidak dirawat dengan obat ini, yang pulih rata-rata dalam 15 hari.

Pada Jumat (1/5/2020) Badan Administrasi Pangan dan Obat-obatan AS (FDA) telah menyetujui penggunaan remdesivir untuk merawat pasien Covid-19 di AS.

ChAdOx1 nCoV-19

Vaksin ini dikembangkan oleh Universitas Oxford di Inggris dan telah diuji coba terhadap kera rhesus di Laboratorium National Institutes of Health di Rocky Mountain, Montana, AS dengan hasil yang menggembirakan.

Menurut Vincent Munster, peneliti yang melakukan tes tersebut, setelah diinokulasi dengan ChAdOx1 enam kera rhesus dipapar virus corona baru dalam jumlah besar. Setelah 28 hari, ternyata semua kera itu diketahui tetap dalam keadaan sehat.

ChAdOx1 masih akan menjalani uji coba lain, tetapi perusahaan pembuat vaksin India The Serum Institute of India telah menyatakan siap memproduksi vaksin ini, paling cepat pada September 2020, segera setelah uji coba yang dilakukan selesai.

AD5-nCoV

China, negara yang dianggap sebagai asal merebaknya pandemi Covid-19, juga mengembangkan vaksin untuk penyakit tersebut. Vaksin yang dinamakan sebagai AD5-nCoV dan telah memulai uji coba pada manusia sejak Maret 2020.

Diwartakan BBC, AD5-nCoV yang dikembangkan perusahaan bioteknologi CanSino Biologics itu menggunakan adenovirus, virus penyebab flu, yang tidak berkembangbiak sebagai pengantarnya (vektor). Dengan adenovirus ini, vaksin akan memancing respons kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

Sejauh ini belum ada jangka waktu pasti kapan vaksin ini siap untuk digunakan, tetapi sebagian besar tipe vaksin sejenis diperkirakan akan membutuhkan waktu antara 6-12 bulan.

Hydroxychloroquine

Obat yang digunakan untuk merawat penyakit malaria itu mengemuka sebagai pengobatan potensial untuk Covid-19 setelah disampaikan oleh Presiden AS, Donald Trump. Namun, sejauh ini tidak ada bukti kuat yang menyebutkan bahwa Hydroxychloroquine efektif untuk mengobati Covid-19.

Peneliti di Prancis diketahui telah menerbitkan studi tentang hydroxychloroquine, mengemukakan bahwa mereka telah mencoba merawat 20 orang pasien COVID-19 dengan obat tersebut. Namun, uji coba itu tidak terkontrol dan tidak melaporkan hasil klinis seperti kematian.

Pada Maret, Perhimpunan Kedokteran Perawatan Kritis AS mengatakan bahwa tidak ada cukup bukti yang bisa membuat keluarnya rekomendasi tentang penggunaan hydroxychloroquine pada pasien positif COVID-19 yang sakit kritis.

Disebutkan lebih lanjut, hydroxychloroquine malah kemungkinan lebih berbahaya ketimbang bermanfaat untuk pengobatan pasien COVID-19. Obat hydroxychloroquine punya berbagai efek samping yang meskipun jarang kasusnya ditemukan tapi dapat membahayakan jantung.

mRNA-1273

Vaksin lain adalah mRNA-1273 yang dikembangkan oleh Moderna Therapeutics, perusahaan bioteknologi yang bermarkas di Massachusetts, AS. Vaksin ini bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus corona baru dan mencegah munculnya penyakit Covid-19.

Uji coba vaksin ini telah dilakukan dengan menyuntikkan kode genetik virus, yang dibuat di laboratorium untuk menghasilkan respons sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement