FARDIANSYAH mengendarai sepeda motor dari Citayam, Kabupaten Bogor ke Jakarta untuk bekerja, Senin (4/5/2020) pagi. Dia takut naik KRL Commuterline usai membaca berita tiga penumpang lokomotif listrik relasi Jakarta-Bogor positif terinfeksi Covid-19.
“Takut, udah tiga orang kena (virus corona),” begitu alasan Fardiansyah.
Sebelum diumumkan ada penumpang kena corona, Fardiansyah pengguna setia KRL. Biasanya, dia naik motor dari rumah ke Stasiun Citayam lalu nyambung KRL ke Jakarta.
Baca juga: "Kalau KRL Berhenti Saya Enggak Bisa ke Mana-mana"
Tapi, pagi tadi, Fardiansyah rela basah-basahan menunggangi motor di tengah gerimis sampai ke Jakarta, untuk menghindari corona yang diyakini berisiko tersebar di KRL. “Mending hujan-hujanan dah.”
Sementara Evi Yulianti, warga Depok tetap naik KRL. “Kalau takut pasti takut, tapi saya juga harus keluar cari nafkah buat keluarga,” ujarnya.
Evi memilih KRL dari Stasiun Depok Lama karena ongkosnya murah. “Saya bekerja di Jakarta Pusat dan rumah di Depok, angkutan yang paling terjangkau hanya KRL. Kalau pun ada taksi harganya tidak terjangkau.”

KRL Commuterline (Okezone.com)
KRL menjadi primadona warga Jabodetabek bepergian terutama yang bekerja di Jakarta. Selain bebas macet, ongkosnya juga murah, meski harus berdesakan. Karena banyak pengguna, KRL dinilai sebagai angkutan massal paling rawan penyebaran Covid-19.
Minggu 2 Mei kemarin, diumumkan tiga penumpang KRL positif corona berdasarkan hasil tes swab yang dilakukan terhadap 350 pengguna jasa lokomotif itu di Stasiun Bogor, pada Senin 27 April 2020 lalu spesimennya diperiksa di Laboratorium Kesehatan Jawa Barat.
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto prihatin mendengar informasi itu. "Transportasi publik dan kerumunan jadi pusat penyebaran virus dari Orang Tanpa Gejala (OTG)," kata Bima.
Dia berjanji akan lebih memperketat pengawalan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Bogor dan sekitarnya. “Meminta Kementerian Perhubungan mengevaluasi kebijakan operasional kereta api.”
Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Hermawan Saputra meyakini jumlah penumpang kena corona lebih dari tiga, jika pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh terhadap penumpang di semua relasi layanan KRL.
“Wilayah Jabodetabek ini kan zona merah sudah terjadi lokal transmission,” katanya kepada Okezone.
KRL Masih Padat
Gubernur Jawa Baratbar Ridwan Kamil menilai PSBB bisa gagal jika KRL masih padat. “KRL yang masih padat bisa menjadi transportasi OTG pembawa virus. PSBB bisa gagal,” katanya.
Penumpang Penumpang KRL di Stasiun Depok Lama (Foto Evi Yulianti)
Kang Emil melalui akun Twitternya @ridwankamil mengaku, sudah melaporkan ke Gugus Tugas Covid-19 dan Kemenhub. "Semoga ada respons terukur dari pihak operator KRL."
Baca juga: Alasan KRL Tetap Beroperasi di Tengah Covid-19
VP Corporate Communications PT KCI, Anne Purba mengatakan, pihaknya sudah mewajibkan physical distancing atau jaga jarak fisik bagi pengguna KRL untuk cegah corona. Tiap gerbong dibatasi hanya 60 orang.
“Kami mengajak para pengguna untuk tetap bersabar menunggu KRL yang kosong agar tetap menjaga physical distancing," kata Anne, Senin.