Hal yang sama ternyata sudah pernah dilakukan Doni Monardo di Natuna, awal Februari 2020. Saat itu bersama Menko PMK dan Menkes mengoordinasi pemulangan lebih dari 200 WNI dari Hubei, Wuhan – China. Sebelum dikembalikan ke keluarga, mereka dikarantina di pangkalan Kogabwilhan 1 yang ada di Natuna.
Selama 14 hari masa karantina, hampir tiada hari tanpa makan ikan. “Asal tahu saja ya... bagi yang jarang makan ikan, mungkin tidak bisa membedakan rasa ikan. Tetapi bagi yang biasa makan ikan, akan dengan mudah bisa membedakan cita rasa ikan. Ikan kerapu, beda rasanya dengan ikan tongkol, tuna, bandeng, dan lain-lain. Jadi, meski tiap hari makan ikan, tidak akan ada rasa bosan,” papar Doni fasih.
Untuk memenuhi kebutuhan ikan bagi 200 lebih WNI yang ada di karantina, pihaknya membeli ikan dari para nelayan Natuna. Ikan-ikan di Natuna juga terbilang masih sangat segar. “Makanya, setelah usai karantina, hasilnya semua sehat, dan bisa kembali ke tengah keluarga dengan aman dan nyaman,” pungkas Doni Monardo.
Begitulah, ikan dimakan, ekonomi nelayan tetap berdenyut.
Catatan ringan Egy Massadiah dari Markas Gugus Tugas Covid-19
Penulis adalah tenaga ahli BNPB; anggota Gugas Covid-19.
(Hantoro)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.