KARTU Prakerja yang ditawarkan pemerintah untuk buruh korban pemutusan hubungan kerja (PHK) ternyata tak berjalan mulus. Setelah menelan pil pahit kehilangan pekerjaan, buruh harus pun dituntut memiliki stok kesabaran untuk mengkses Kartu Prakerja.
Sekertaris Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Jateng, Syariful Imaduddin, mengatakan, keluhan buruh untuk mendapatkan kartu Prakerja seolah menjadi orkestra di tengah pandemi Covid-19. Mereka serempak menyuarakan program tersebut tak ramah dengan buruh.
“Tidak semua pekerja terdampak itu melek teknologi. Selain itu prosesnya lama banget, jadi semua pekerja terdampak harus memiliki energi dan stok kesabaran yang cukup banyak,” kata pria yang akrab disapa Ipung tersebut, Sabtu (16/5/2020).
Dia mengatakan, semula banyak buruh yang berharap pendataan dilakukan secara kolektif oleh serikat pekerja maupun manajemen perusahaan tempat bekerja. Namun, mereka dituntut mendaftar sendiri dengan memanfaatan jaringan internet.

“Cara pendaftaran online yang berlaku sekarang sulit bagi pekerja terdampak, apalagi yang SDM rendah. Dulu yang dipahami pekerja pendaftaran online bisa bersifat kolektif dan input data bisa dilakukan oleh perusahaan di tempat kerja atau melalui serikat pekerja di perusahaan yg diketahui oleh manajemen perusahaan,” beber dia.