Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Balada Anak Rantau Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Corona

Pernita Hestin Untari , Jurnalis-Selasa, 19 Mei 2020 |20:35 WIB
Balada Anak Rantau Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Corona
foto: Okezone
A
A
A

JAKARTA- Lebaran biasanya menjadi momen sekali setahun yang ditunggu oleh para perantau Ibu Kota untuk berkumpul bersama keluarga. Namun, lebaran kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Mereka harus berjuang dengan pandemi virus corona (Covid-19) di tanah rantau dan merelakan tidak mudik ke kampung halaman. Pemerintah juga telah melarang masyarakat untuk tidak mudik demi mengurangi rantai penyebaran Covid-19.

Hal tersebut dialami oleh salah satu perantau Richa (25), lebaran kali ini menjadi tahun keduanya tidak mudik lebaran. Awalnya perempuan asal Pasaman Barat, Sumatera Barat tersebut merencanakan mudik pada lebaran tahun ini, namun urung dilakukan setelah ada imbauan tidak mudik dari Pemerintah. Ia juga merasa dilema karena tidak ingin menjadi pembawa virus (carrier) bagi keluarganya.

“Dua tahun berturut-turut tidak mudik, rencananya mau mudik karena dapat libur lumayan panjang dan mau habiskan waktu untuk keluarga. Udah atur jadwal juga tadinya dan mau pesan tiket pesawat tapi gak jadi. Tapi liat kondisi sekarang, kalau sayang keluarga kan gak mudik karena resiko penularan (Covid-19) lebih tinggi dan mengkhawatirkan. Karena kan kita gak tahu kita bawa virus atau enggak karena kan bisa aja kita gak ada gejala tapi bawa virus atau pas perjalanan kan kita terkena,” tutur Richa kepada Okezone, Selasa (19/5/2020).

Setelah gagal mudik ke kampung halaman, Richa awalnya berencana untuk berkumpul bersama teman yang juga merantau di Ibu Kota. Hal itu menjadi alternatif baginya untuk melepas rindu kampung halaman. Namun, ia juga masih belum tahu ke depannya, pasalnya ada larangan mudik lokal di Jabodetabek.

“Tadinya mau sekadar masak bareng karena sama-sama anak rantau. Tapi belum tahu kalau dilarang dan transportasi ditutup kemungkinan dikosan aja. Sebenernya sedih banget gak mudik, apalagi harus sholah Ied dikosan. Rasanya ada yang kurang,” kata dia.

Sama seperti Richa, Adhikresna (29) perantau asal Solo mengungkapkan dirinya memilih tidak mudik bukan karena imbauan dari Pemerintah saja, namun karena tidak ingin menjadi pembawa virus.

“Kalau soal aturannya (tidak mudik) gue setuju aja, enggak ada masalah, tapi emang bingung juga ngerespons situasi kaya gimana. Keluarga gue sendiri malah nganjurin enggak pulang dulu, daripada ribet sama aturan dan karantina, kasihan orang-orang di sekitaran komplek rumah kampung gue juga nanti karena ada tambahan ODP,” kata dia.

Ia mengatakan untuk melepas rindu dengan keluarga, ia biasa bertukar kabar melalui sambungan telepon dan video call.

Di sisi lain, Lidya (28) yang merupakan perantau asal Mojokerto, Jawa Timur mengungkapkan bahwa tahun ini menjadi tahun pertamanya tidak mudik lebaran. Ia yang bekerja di salah satu perusahaan media swasta selalu mengambil cuti untuk berkumpul bersama keluarga saat lebaran.

“Ibu udah sempat tanya sih mudik apa ga? Ya walaupun sebenarnya ingin pulang, tapi milih enggak mudik, daripada malah ntar kenapa-kenapa kalau maksa mudik,” katanya.

Ia menuturnya bahwa telah menyiapkan mudik dengan membeli tiket pesawat jau-jauh hari karena lebih murah. Namun sayang, ia harus menelan pil pahit karena adanya pandemi virus corona dan terpaksa melakukan refund tiket.

“Tiket mudik udah dibeli dari November 2019 pas lagi ada promo, sementara tiket balik udah kebeli Februari kemarin. Tapi karena batal mudik, ya semuanya dicancel. Sekarang tiket-tiketnya lagi proses refund,” katanya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement