Mantan Presiden George W Bush Angkat Bicara Soal Demonstrasi Anti-Rasisme di AS

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 03 Juni 2020 11:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 03 18 2223739 mantan-presiden-george-w-bush-angkat-bicara-soal-demonstrasi-anti-rasisme-di-as-k92TL6emVs.jpg Presiden ke-43 AS, George W Bush. (Foto: Reuters)

JAKARTA – Presiden ke-43 Amerika Serikat (AS) George W Bush angkat bicara mengenai rasisme, penindasan, dan empati menyusul demonstrasi anti-rasisme dan kekacauan yang melanda Negeri Paman Sam dalam sepekan terakhir.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis NBC News, Bush mengatakan bahwa dia dan istrinya merasa “sangat sedih” karena kematian pria Afrika-Amerika George Floyd, yang kematiannya oleh polisi di Minneapolis telah memicu gelombang demonstrasi, serta "ketidakadilan dan ketakutan yang mencekik AS”. Dia kemudian berbicara tentang "rasisme sistemik" dan "doktrin dan kebiasaan superioritas rasial."

"Kita hanya bisa melihat kenyataan kebutuhan Amerika dengan melihatnya melalui mata yang terancam, tertindas, dan kehilangan hak pilih," tulis Bush.

“Ada cara yang lebih baik - cara empati, dan komitmen bersama, dan tindakan berani, dan perdamaian yang berakar pada keadilan. Saya yakin bahwa bersama-sama, orang Amerika akan memilih cara yang lebih baik,” kata mantan Presiden AS itu.

Pernyataannya segera ditafsirkan sebagai kecaman terselubung terhadap Presiden Donald Trump dan tanggapannya terhadap kerusuhan yang terjadi saat ini, yang awalnya berlangsung sebagai demonstrasi damai pekan lalu.

Bush juga berbicara tentang kekerasan yang telah mengguncang kota-kota di seluruh AS selama sepekan terakhir.

"Penjarahan bukanlah pembebasan, dan kehancuran bukanlah kemajuan," tulisnya.

Banyak yang memuji pernyataan Bush tersebut, termasuk sekelompok politisi Partai Republik yang menentang Trump, dan beberapa jurnalis dan perusahaan media. Namun, banyak juga yang tampaknya masih belum bisa memaafkan Bush atas “dosa” yang dia perbuat saat memerintahkan invasi ke Irak pada 2003, menganggapnya bertanggungjawab atas penderitaan jutaan warga negara Timur Tengah itu saat ini.

Pernyataan Bush itu dirilis sehari setelah sejumlah outlet media menggali komentar Menteri Pertahanannya Donald Rumsfeld tentang kekacauan dan penjarahan di Irak setelah invasi AS 2003.

"Meski tidak ada yang memaafkan penjarahan... orang bisa memahami perasaan terpendam yang mungkin dihasilkan dari puluhan tahun penindasan dan orang-orang yang anggota keluarganya dibunuh oleh rezim itu," kata Rumsfeld pada April 2003, merujuk pada rezim Saddam Hussein yang digulingkan.

"Dan saya tidak berpikir ada orang... (yang tidak mau) menerimanya sebagai bagian dari harga dari rezim yang tertekan menuju kebebasan".

Banyak yang mengaitkan pernyataan Rumsfeld itu pada kekacauan dan penjarahan yang saat ini terjadi di AS, yang juga bertentangan dengan apa yang disampaikan Bush dalam suratnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini