Kasus Jenazah PDP Covid-19 Tertukar Berbuntut Panjang

Syaiful Islam, Okezone · Kamis 25 Juni 2020 09:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 25 519 2235999 kasus-jenazah-pdp-covid-19-tertukar-berbuntut-panjang-9rC9X86aZp.jpg Foto: Shutterstock

SURABAYA - Kasus jenazah berstatus PDP (Pasien Dalam Pengawasan) Covid-19 yang tertukar di Surabaya berbuntut panjang. Pihak Rumah Sakit Islam Surabaya (RSIS) Ahmad Yani akan memberikan sanksi terhadap petugas yang tidak menjalankan tugasnya sesuai dengan prosedur atau SOP.

Adapun sanksi yang akan diberikan pada petugas yang teledor berujung pada jenazah tertukar, sesuai dengan aturan yang berlaku dalam RSI. Sehingga kasus serupa tidak terulang kembali pada masa mendatang.

"Ya tetap salah petugas saya, kita sudah beri peringatan karena menyalahi prosedur yang berjalan. Pasti ada sanksi sesuai aturan yang ada di RSI," terang Direktur RSIS Ahmad Yani dr Samsul Arifin, Kamis (25/6/2020).

Samsul menjelaskan, setelah ada kejadian tersebut, pihaknya mengumpulkan petugas rumah sakit untuk dimintai keterangan. Hasilnya ada petugas yang menyalahi prosedur. Saat kejadian kebetulan ada dua jenazah, yang biasanya secara prosedur ditulis nama, alamat dan sebagainya ditempel di peti.

"Mungkin karena terburu-buru, kan saat itu hanya ada satu petugas, sedangkan petugas yang satunya PDP. Saya minta maaf pada keluarganya, sudah saya kirim teman-teman kesana," terang Samsul.

Baca Juga: Pemakaman dengan Protokol Covid-19 Telah Disiapkan, Jenazahnya Malah Tertukar

Menurut Samsul, untungnya jenazah yang satunya belum diambil oleh pihak keluarga. Pihak rumah sakit melaksanakan protokol Covid-19 dalam pemulasaran pada jenazah itu karena ada tanda-tanda klinis, namun hasil swab belum keluar.

"Paru-paru kan ada gambarannya, tanda-tanda klinis sudah jelas, tapi swab belum keluar," ucap Wakil Ketua Persi Jatim ini.

Disisi lain, saat ini pihak RSIS Ahmad Yani mengusulkan rujukan pasien Covid-19 dengan menyiapkan 52 tempat tidur untuk ruang isolasi. Hal ini dilakukan karena melihat banyak pasien-pasien ditolak oleh rumah sakit rujukan karena penuh.

Apalagi ada imbauan dari Persi untuk rumah sakit non rujukan supaya menambah fasilitasnya. Sehingga yang awalnya tempat tidur di RSIS Ahmad Yani hanya ada 6, sekarang berjumlah 52 ruang isolasi.

"Kita sudah lapor ke dinas dan Gubernur untuk minta rujukan, tapi SK belum keluar, namun sudah diakui Kemenkes. Ada 52 tempat tidur dan penuh semua, ful PDP dan positif juga ada," tandas Samsul.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini