29 Pegowes Jadi Korban Kecelakaan, Hati-Hati dalam Bersepeda di Yogyakarta

Harian Jogja, · Jum'at 26 Juni 2020 15:21 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 26 510 2236876 29-pegowes-jadi-korban-kecelakaan-hati-hati-dalam-bersepeda-di-yogyakarta-z98W8pgQwV.jpg Ilustrasi (Foto : Okezone.com)

BANTUL — Bersepeda kian digemari warga di tengah pandemi virus corona atau covid-19, termasuk masyarakat Yogyakarta. Namun, yang harus diingat adalah tujuan bersepeda supaya kondisi badan tetap sehat dan bugar.

Karena itu, selayaknya memperhatikan kondisi jalan yang aman untuk bersepeda lantaran tidak semua jalan di sekitar Yogya aman bagi para pesepeda. Jalur cepat, lalu lalang kendaraan yang ramai, dan kedisiplinan pegowes dalam mengayuh sepeda menjadi faktor yang sangat menentukan keselamatan.

Polres Bantul sudah mengidentifikasi beberapa jalur yang kurang aman bagi pesepeda. Kanit Laka Polres Bantul Ipda Maryana menyebut ada beberapa jalan di kawasan Bantul yang harus diwaspadai para pesepeda karena rawan kecelakaan.

Beberapa ruas jalan tersebut adalah jalur berada di dekat kampus maupun dekat pusat keramaian di sekitar Yogyakarta, juga jalan menuju objek wisata.

“Selain di Jalan Parangtritis, ada Jalan Samas, Jalan Srandakan, depan UMY, dan Jalan Janti yang rawan bagi pesepeda. Kami ada rencana identifikasi ke perkumpulan sepeda terkait dengan etika bersepeda,” ucapnya seperti dilansir dari Harian Jogja, Jumat (26/6/2020).

Pesepada menjadi perhatian Polres Bantul karena pandemi Covid-19 memunculkan kembali tren bersepeda. Sementara, kecelakaan yang melibatkan pegowes cukup banyak selema tiga bulan terakhir.

“Sudah 29 orang yang jadi korban dalam tiga bulan terakhir. Memang sekarang lagi musimnya pegowes, oleh karena itu kami minta kepada pegowes untuk lebih berhati-hati dan mengedepankan etika bersepeda,” ujar Maryana.

Dari 29 pegowes yang kecelakaan di jalan raya, lima tewas, enam tidak terluka, dan 18 lainnya luka ringan. Menurut Maryana, banyak kecelakaan terjadi karena pesepada mengabaikan keselamatan dan etika berkendara di jalan raya.

Sementara, pengamat Transportasi dari UGM Ahmad Munawar mengatakan kecelakaan yang menimpa pegowes lebih banyak terjadi di jalur dengan arus lalu lintas lengang dan jalan sepi. Sebab, pengayuh sepeda terpacu untuk meningkatkan kecepatan.

Baca Juga : Patung RA Kartini pun Pakai Masker

Baca Juga : 1.355 Perempuan Bandung Jadi Janda Baru Selama Pandemi

Dosen Fakultas Teknik UGM ini melihat perlu adanya kesadaran dari para pegowes untuk lebih memperhatikan keselamatan diri. Selain menjaga perilaku tertib berlalu lintas, para pegowes juga harus mengenakan helm.

“Memang di Indonesia belum ada kewajiban menggunakan helm untuk pesepeda. Namun, di beberapa negara sudah ada. Mungkin memang diperlukan sosialisasi apakah penggunaan helm untuk sepeda diwajibkan,” ujar dia.

Selain itu, para pegowes juga disarankan untuk menggunakan jalan-jalan kecil yang tidak digunakan oleh kendaraan lainnya. Hal tersebut memang cukup sulit, karena di Indonesia tidak ada jalur khusus untuk sepeda. “Karena itu, pegowes sebaiknya harus patuhi aturan lalu lintas. Sebisa mungkin gunakan jalur kecil dan gunakan helm, untuk keselamatan diri,” harap dia.

(aky)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini