Aktivitas Gunung Merapi Masuki Fase Intrusi Magma

Agregasi KR Jogja, · Kamis 02 Juli 2020 22:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 02 510 2240367 aktivitas-gunung-merapi-masuki-fase-intrusi-magma-iwEPBs0n9V.jpg foto: istimewa

YOGYAKARTA - Aktivitas Gunung Merapi saat ini memasuki fase intrusi baru (fase 7), atau fase intrusi magma di konduit dalam. Ciri-ciri fase VII ini ditandai terjadinya letusan-letusan eksplosif diiringi kegempaan dalam. Jika tekanan magma kuat, maka erupsi akan dapat berlangsung kembali. Namun jika tidak, maka intrusi magma akan berperan sebagai sumbatan yang mengakhiri siklus erupsi 2018-2019.

Hal itu dikatakan Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Agus Budi Santoso dalam webinar mitigasi bencana geologi bertema ‘Kabar Merapi Terkini’ yang diselenggarakan oleh BPPTKG, pada Rabu 1 Juni 2020.

Menurut Budi, terdapat perbedaan karakter letusan antara periode 2018, 2019 dan 2020. Jika dilihat dari energi seismiknya, letusan yang terjadi di 2018 energinya kecil dibanding 2019 dan 2020. Letusan terbesar terjadi pada 10 Oktober 2019 disusul letusan 12 Februari 2020.

Selain itu, letusan-letusan sejak 2018 hingga sekarang telah mengubah morfologi/bentuk kubah lava Merapi. Sebelum September 2019 bentuk kubah lava masih utuh dengan volume kubah (data drone) 468.000 m3. Seiring dengan letusan-letusan yang terjadi, kubah lava tersebut sedikit demi sedikit terbongkar, menjadikan bentuknya tidak utuh dan volumenya jauh berkurang. Data drone terakhir per 13 Juni 2020 volume kubah 200.000 m3.

“Volume kubahnya berkurang separuh,” kata Budi.

 Gunung MERAPI

Untuk aktivitas vulkanik Merapi, dijelaskan Budi, bahwa sebelum erupsi 21 Juni 2020 kemarin, terjadi peningkatan gempa vulkanik dalam. Kemudian gas vulkaniknya, dalam kisaran tinggi yaitu 600 ppm. Angka ini lebih tinggi dibanding tahun 2019, berkisar 300 ppm. Yang menarik, setelah erupsi 21 Juni kemarin, terjadi deformasi yang cukup signifikan dengan jarak tunjam EDM Babadan memendek 3 cm (0,43 cm/hari). Deformasi tersebut terjadi sejak 22 Juni kemarin hingga sekarang.

“Aktivitas vulkanik Merapi mengalami peningkatan. Ini semua konsisten dengan proses intrusi magma di konduit dalam,” katanya.

Lebih lanjut, dijelaskan Budi, ada kemiripan antara aktivitas Merapi pascaletusan tahun 2010 dengan pascaletusan 1872 ditandai dengan muncul kubah lava baru disusul letusan-letusan eksplosif. Setelah data-data 2010 vs 1872 disandingkan ternyata konsisten, sehingga oleh BPPTKG dijadikan referensi.

“Kalau membandingkan pola aktivitas dengan pasca letusan 1872, maka bisa diprediksi bahwa setelah terjadinya ekstrusi magma tahun 2018 kemarin, kemungkinan besar akan terjadi lagi ekstrusi magma yang lebih besar, tapi tidak tahu kapan itu terjadi. Semoga memunculkan gejala sebelum ekstrusi magma tersebut terjadi, sehingga bisa diantisipasi,” katanya.

Perkembangan erupsi yang membahayakan telah diantisipasi melalui sebuah rencana kontijensi kebupaten berdasarkan skenario yang disusun Badan Geologi.

Sementara itu, Kepala BPPTKG, Hanik Humaida mengatakan, erupsi Merapi yang terjadi Mei-Juni 2018 dikontrol oleh proses hydrothermal sealing (nonmagmatik). Sedangkan morfologi abu erupsi Merapi 2018-2020 didominasi oleh butiran pejal (blocky) indikasi minimnya kandungan gas saat butiran terbentuk. Magma Merapi telah mengalami degassing (pelepasan gas) sebelum tererupsikan.

“Akumulasi gas yang dilepas itu yang menyebabkan terjadinya erupsi eksplosif saat ini,” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini