Tertutup untuk Wisatawan, Umat Hindu Gelar Ritual Yadya Kasada 2020 di Bromo

Hana Purwadi, iNews · Selasa 07 Juli 2020 18:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 07 519 2242653 tanpa-wisatawan-umat-hindu-gelar-ritual-yadya-kasada-2020-di-bromo-szgB4QDT9i.png Ritual Yadya Kasada Umat Hindu di Gunung Bromo (foto: Okezone)

PROBOLINGGO - Perayaan Yadnya Kasada yang digelar umat Hindu di kawasan Tengger, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur kali ini berbeda dari perayaan tahun-tahun sebelumnya, Selasa (7/7/2020)

Pasalnya perayaan ritual pada bulan ke 10 hitungan kalender tengger ini, digelar di tengah pandemi Covid -19, sehingga dalam pelaksanaan ini hanya untuk internal masyarakat Tengger dan wisatawan tidak dipernolehkan datang untuk melihat Yadnya Kasada.

Meski ditengah pandemi Covid-19, umat Hindu Tengger dari 4 kabupaten seperti Lumajang, Pasuruan, Probolinggo dan Malang, merasa hikmad dan khusuk melaksanakan Kasada tahun ini.

Pengamatan Okezone, gelaran Yadnya Kasada yang berlangsung di Pura Luhur Poten Lautan Pasir Bromo, lebih sederhana dan tertutup. Tidak ada hiruk pikuk suara knalpot, atau lantunan musik hingar bingar dari pengeras suara. Upacara Keagamaan di Pura Luhur Poten pun berlangsung tertutup. Hanya warga Suku Tengger dari empat Kabupaten di sekitar lereng Bromo saja yang boleh masuk.

Ritual Umat Hindu

Ketua Paruman Dukun Tengger, Sutomo menyebut, jauh sebelum ditetapkan sebagai destinasi wisata internasional, warga Tengger sejatinya sudah biasa dengan perayaan Yadnya Kasada tanpa wisatawan.

“Ini mengingatkan kembali pada masa dahulu, dan Justru pelaksanaan Kasada tahun ini lebih khidmat dan khusyuk memang,” ujar Sutomo.

Meski di tengah Pandemi, pelaksanaan Yadnya Kasada tetap digelar dan ritual pelaksanaan tetap dilaksanakan seperti tahun tahun sebelumnya, seperti pembacaaan mantra di Pura Poten Agung, Lautan Pasir, kemudian membuang sesaji (tandur Tuwuh) ke kawah Gunung Bromo.

“Dengan perayaan Yadnya Kasada tahun ini, semoga segala macam hal buruk segera hilang. Salah satunya adalah pandemi corona, atau disebut sebagai ‘pagebluk,” jelas Sutomo.

(amr)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini