Bukan hanya itu, atap dan dinding gubuk harus diikatkan pada batang pohon. Sementara, agar atap ini tidak terbang Mbah Sastro menindihnya dengan balok kayu dan batu.
Saat melihat ke dalam gubuk, tentu mustahil bisa beristirahat dengan layak. Hanya cukup untuk mereka berdua saja. Itu pun masih harus diisi dengan beberapa pakaian serta bungkusan kain dalam kantong plastik.
Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mbah Sastro hanya mengandalkan hasil memancing ikan pelus di sungai yang berada di samping gubuknya. Ikan hasil memancingnya ini kemudian dijual untuk kebutuhan hidup selama satu minggu.
Untuk memasak, mereka menggunakan tungku kayu bakar. Lokasi dapur tidak lebih memprihatinkan karena hanya ditutup dengan karung beras. Jika hujan, dapurnya tak bisa digunakan.
Mbah Sastro mengaku selama ini baru sekali mendapat bantuan berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun BLT ini tak diteruskan karena dianggap salah sasaran. KTP yang dimiliki Mbah Sastro di Kelurahan Kedung Wuluh Selatan bukan tempat yang ditinggali sekarang.
(Fetra Hariandja)