24 Tahun Jadi Lokalisasi, Puluhan Warung Dibongkar Polisi

Fathnur Rohman, Okezone · Kamis 09 Juli 2020 01:18 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 09 525 2243424 24-tahun-jadi-lokalisasi-puluhan-warung-dibongkar-polisi-ppuW17PrBu.jpg Warung remang-remang dijadikan lokalisasi praktik prostitusi dibongkar polisi (Foto : Okezone.com/Fathnur)

CIREBON - Puluhan warung di Desa Mundu Pesisir, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat dibongkar poolisi serta aparat lainnya. Warung-warung ini diketahui kerap dijadikan sebagai lokalisasi prostitusi.

Kegiatan prostitusi di lokasi tersebut sudah berjalan sekira 24 tahun. Lokasi ini terletak di Blok Jongor, Desa Mundu Pesisir, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Menurut Kapolsek Mundu, AKP Ade Subandi, tempat prostitusi di Blok Jongor sering dirazia petugas. Akan tetapi, meski sudah dirazia, masih saja ditemukan aktivitas prostitusi di lokasi tersebut. Ade menceritakan, tempat prostitusi di Blok Jongor juga sering beroperasi di siang hari. Para pekerja seks komersial (PSK) akan melayani tamu yang datang berkunjung ke warung-warung tersebut.

"Kita sering merazia juga. Tapi tetap saja masih ada. Kita pernah juga memergoki adanya aktivitas prostitusi waktu siang hari," kata Ade kepada wartawan, Rabu (8/7/2020).

Ketika sudah ketahuan, sambung Ade, pihaknya beserta pemerintah desa setempat akan mendatangi warung yang dijadikan sebagai tempat prostitusi. Ia meminta supaya pemilik warung dan PSK tidak melakukan aktivitas haram itu lagi.

"Sudah buat pernyataan, tapi tetap melakukan prostitusi juga," tambah Ade.

Hal senada juga disampaikan Camat Mundu, yakni Anwar Sadat. Ia menerangkan, ketika pihaknya melakukan inpeksi mendadak, banyak ditemukan bungkus obat kuat serta kondom bekas di sekitar warung-warung di Blok Jongor.

Dikatakan Anwar, biasanya tarif yang ditawarkan PSK di Blok Jongor adalah sebesar Rp250 ribu untuk sekali kencan. Ia mencium ada oknum tidak bertanggung jawab, yang sengaja menyediakan lahan untuk disewa pemilik warung. Sebagai biaya sewa, pemilik warung akan membayar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu perbulan.

"Di warung itu kamarnya sekat-sekat. Waktu kami sidak ke situ banyak ditemukan bungkus obat kuat, kondom, dan sebagainya, " ungkap Anwar.

Baca Juga : Sejumlah Pasangan Selingkuh Digerebek saat Ngamar di Kosan

Baca Juga : Aksi Maria Lumowa Bobol Bank Rp1,7 Triliun Diduga Dibantu 'Orang Dalam'

Sementara itu, salah satu warga bernama Puri (31) mengaku mendukung langkah pemerintah untuk membongkar puluhan warung di Blok Jongor. Ia geram, karena tempat tersebut sering dijadikan lokasi aktivitas prostitusi. Kegiatan haram itu meresahkan masyarakat sekitar.

Puri menyampaikan, kegitan prostitusi di Blok Jongor sudah ada sejak dirinya masih anak-anak. Ketika puluhan warung di Blok Jongor dibongkar, ia datang menyaksikannya sembari membawa poster penolakan adanya aktivitas haram tersebut.

"Jelas mengganggu. Harus semuanya dibongkar. Ini soalnya sudah puluhan tahun, " pungkas Puri.

(aky)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini