Share

Tol Trans Sumatera Menyentuh Pariwisata Bumi Rafflesia

Demon Fajri, Okezone · Jum'at 10 Juli 2020 17:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 10 340 2244447 tol-trans-sumatera-menyentuh-pariwisata-bumi-rafflesia-sj46ikO8rg.jpg Jalannya pembangun Tol di Bengkulu. Foto: Demon Fajri-Okezone

BENGKULU – Provinsi Bengkulu memiliki potensi alam yang patut disambangi kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara. Nuansa alam di sana tak kalah indah dibanding destinasi lain di Nusantara.

Mulai dari Air terjun, Gunung Berapi Bukit Kaba, Pantai Panjang, bahkan objek wisata sejarah sekalipun tesedia. Contohnya di Bengkulu terdapat Rumah Pengasingan Bung Karno dan Rumah Fatmawati.

Tidak hanya itu, daerah ini juga memiliki kawasan tumbuhnya bunga Rafflesia Arnoldii, seperti julukan provinsi tersebut, Bumi Rafflesia.

Potensi wisata itu tentunya musti didukung dengan sarana transfortasi yang mumpuni. Pembangunan jalan tol, misalnya. Dengan penunjang sarana transfortasi, geliat wisatawan dari berbagai daerah akan menjadi solusi untuk mempermudah akses.

Anggota Komisi II DPRD Provinsi Bengkulu Heri Purwanto mengatakan pembangunan tol Bengkulu - Lubuk Linggau dipastikan akan berdampak terhadap kunjungan wisatawan. Sebab pelancong akan lebih mudah dan cepat ke berbagai tempat wisata.

Tol dapat memperpendek waktu tempuh, misalnya 3 hingga 4 jam bisa dipangkas menjadi 1 hingga 2 jam perjalanan.

''Kita yakin sektor pariwisata akan dibanjiri wisatawan jika jalan tol itu dioperasikan. Wisatawan domestik dari Sumatera Selatan dan Jambi akan lebih cepat ke Bengkulu guna menikmati objek wisata laut serta potensi objek wisata lainnya di Bengkulu,'' ujarnya kepada Okezone pada Senin 6 Juli 2020.

Baca Juga: 

Heri menambahkan, pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) juga akan menarik minat wisatawan untuk datang ke Kota Bengkulu maupun kabupaten penyangga. Seperti Kabupaten Rejang Lebong yang memiliki objek wisata pegunungan.

Potensi destinasi wisata, lanjut Heri, sangat berpeluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Penyerapan lapangan pekerjaan diyakini bakal meningkat dan kemiskinan perlahan-lahan akan berkurang.

Wisata Kepahiang Mountain Valley di Bengkulu, Foto: Demon Fajri

''Pengembangan sektor pariwisata sangat strategis dengan adanya pembangunan jalan tol tersebut. Kemudahan akses lalu lintas itu dipastikan akan mendongkrak kunjungan wisatawan,'' imbuhnya.

Kemudian sektor pertanian juga akan sangat diuntungkan dengan transportasi lancar berkat tol. Biaya angkutan diprediksi bakal lebih murah sehingga harga produksi pertanian akan lebih tinggi.

''Sudah barang tentu dengan adanya tol ini akan membawa pengaruh positif terhadap semua sektor. Termasuk pengiriman lewat jalur laut pelabuhan Pulai Baai Kota Bengkulu,'' jelas Heri. 

UMKM Menggeliat Kepahiang Mountain Valley, Destinasi Wisata Hits di Bengkulu

Bengkulu menjadi salah satu bagian dari pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) koridor Palembang, Sumatera Selatan – Bengkulu.

Sejak Februari 2020 proses pembangunan Tol Bengkulu - Curup, Kabupaten Rejang Lebong - Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, seksi I Taba Penanjung, dan Kabupaten Bengkulu Tengah, sudah mencapai 10,22 persen per Senin 6 Juli 2020.

Baca Juga: Pesona Batu Kumbang, Destinasi Wisata di Ujung Barat Bengkulu

Meski sedang pandemi virus corona (Covid-19), proyek JTTS ini terus digeber perusahaan BUMN PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI). Proses pekerjaan fisik sepanjang 6,5 Kilometer (Km) sudah dijalankan.

Teriknya matahari yang membuat kulit tersengar tak menyurutkan para pekerja jalan tol ini. Mereka terus bertugas mewujudkan ''Jalan Tol Trans Sumatera sebagai Roda Penggerak Ekonomi dan Pariwisata di Sumatera''.

Pembangunan Tol di Bengkulu diyakini sebagai salah satu solusi untuk perekonomian warga, termasuk bagi warga yang terdampak proyek itu sendiri. Contoh warga yang terkena imbasnya adalah penduduk Desa Lagan, Kecamatan Semidang Lagan, Kabupaten Bengkulu Tengah.

Di desa 130 Kepala Keluarga (KK) ini perekonomian warga setempat mulai bergeliat. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) meningkat di kawasan yang dipimpin Kepala Desa Saukani Taufik tersebut.

Warga membuka warung manisan di sekitar pembangunan jalan tol. UMKM tersebut dijadikan mata pencarian masyarakat setempat sehingga penghasilan sehari-hari mereka menjadi bertambah.

Tak sampai di sana, Kades Lagan mengatakan objek wisata Danau Sam yang berdekatan dengan tol di wilayahnya juga akan memetik sisi positif dari proyek pemerintah tersebut.

Baca Juga: Viral Jembatan Gantung Bengkulu Putus, Intip 3 Destinasi Wisata Serupa di Sumatera 

''Secara ekonomi, warga sudah mulai membuat UMKM di sekitar pembangunan jalan tol. Ini sudah terlihat jika perekonomian masyarakat menjadi terbantu. Jalan tol Trans Sumatera dapat dijadikan sebagai roda penggerak ekonomi dan pariwisata di Sumatera, terlebih di desa kami memiliki objek wisata Danau Sam,'' ujarnya saat ditemui Okezone pada Senin 6 Juli 2020.

Bangkitkan Perekonomian Masyarakat

Rencana pembangunan konstruksi ruas tol Lubuk Linggau – Bengkulu nantinya akan dilengkapi terowongan (tunnel) sepanjang 7 km yang menembus bukit barisan dengan kedalaman maksimal 352 meter.

Tidak hanya itu, tol juga akan dilengkapi dengan jembatan bentang panjang (longspan bridge) sepanjang 1,6 km yang membentang di atas lembah dengan ketinggian pilar mencapai 45-90 meter.

Tidak hanya di Desa Lagan, masyarakat di Desa Padang Ulak Tanjung, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah, pun juga merasakan dampak positif dari pembangunan jalan tol.

Warga memanfaatkan pembangunan dengan membuka usaha warung kopi. Di desa yang dipimpin Kades Padang Ulak Abdul Rani ini, masyarakat juga memanfaatkan rumah mereka untuk disewa dan dikontrakkan untuk dijadikan sebagai tempat tinggal pekerja tol. Bahkan masyarakat setempat juga ikut terlibat dalam proyek besar tersebut

Lebih lanjut menurut Abdul, sebagian warganya telah beralih profesi dari sebelumnya petani karet kini menjadi tenaga pembangunan tol.

''Sejak pembangunan, perekonomian masyarakat di sini (Desa Padang Ulak Tanjung) menggeliat. Mereka membuka UMKM, menjadi pekerja, serta menyewakan bangunan rumah untuk para pekerja,'' jelas Abdul.

Selain itu, tambah Abdul, masyarakat juga memanfaatkan pembangunan jalan tol dengan membuka usaha catering. Mereka membaca peluang usaha yang dapat menambah penghasilan.

''Pembangunan ini tentunya akan berdampak positif secara berkesinambungan, sebab sejak awal dampak perekonomian sudah terlihat, apa lagi ketika jalan tol sudah 100 persen, jadi geliat ekonomi dan pariwisata di Bengkulu, tentunya akan bangkit,'' sambung Abdul.

Efisiensi Biaya Operasional Transfortasi Umum

Ruas tol Lubuk Linggau, Sumatera Selatan–Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, memiliki 3 seksi. Seksi I, Kota Bengkulu -Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah, sepanjang 17,45 km.

Lalu, seksi II Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah–Kepahiang, Kabupaten Kepahiang, sepanjang 23,7 km. Kemudian seksi 3 Kepahiang – Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, sepanjang 54,5 km.

Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) koridor Palembang, Sumatera Selatan – Bengkulu ini tentunya bedampak baik bagi pengusaha bus di Bengkulu. Selain dapat mempersingkat waktu tempuh, juga berdampak efisiensi biaya operasional.

Terutama biaya perjalanan antar Provinsi Bengkulu menuju Sumatera Selatan. Hal ini disampaikan Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan.

''Kami tentunya diuntungkan dengan penghematan waktu dan mengefisiensi biaya operasional jika tarif jalan tol murah,'' ujarnya.

Investasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Pembangunan Tol Bengkulu-Curup, Kabupaten Rejang Lebong - Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, seksi I Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah sudah mencapai sekira 10,22 persen, per Senin 6 Juli 2020.

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengatakan tol itu akan mempengaruhi nilai investasi di daerahnya. Ia mengamini tol itu akan meningkatkan laju pertumbuhan pariwisata.

''Investasi tol ini sangat besar dan akan mendongkrak perekonomian. Ini potensi yang dapat memberikan keyakinan dan kepercayaan, jika di Bengkulu bisa untuk berinvestasi,'' ujarnya pada Selasa 7 Juli 2020.

Sementara itu Sementara itu Koordinator Legal dan Humas PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) Chandra Irawan mengatakan, pembangunan tol Bengkulu- Curup, Kabupaten Rejang Lebong - Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, seksi I Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah, sudah mencapai sekira 10,22 persen atau 6,5 Km kilometer per Senin 6 Juli 2020.

Di mana proses pekerjaan fisik, kata Chandra, sepanjang 6,5 Km. Mulai dari pekerjaan tanah gali timbun, perkerasan badan jalan Rigid Pavement, pondasi struktur jembatan, dan box culvert.

''Pengerjaan rigit pavement sepanjang 17,45 kilometer sudah mencapai 10 persen. Mulai dari pengerjaan jembatan, jalan, dan lainnya,'' ucapnya.

Selain itu, lanjut Chandra, untuk Warga Terdampak Pembangunan (WTP) jalan tol, yang dilakukan pembebasan saat ini sudah mencapai 28 persen. Mulai dari Kelurahan Betungan, Kecamatan Selebar Kota Bengkulu.

Lalu, Desa Padang Ulak Tanjung, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah, Desa Lagan, Desa Taba Lagan, Kecamatan Semidang Lagan, Kabupaten Bengkulu Tengah.

Namun, jelas Chandra, pada akhir Juli 2020, pembebasan lahan untuk WTP ditargetkan mencapai 10 persen di Desa Jumat, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah.

Menurut Chandra, 95 persen masyarakat di Desa Jumat sudah setuju untuk pembebasan lahan. Dengan adanya target 10 persen di desa itu, maka pembebasan bagi WTP pada akhir Juli diperkirakan mencapai 38 persen.

''Kita menargetkan diakhir Juli 2020, pembebasan mencapai 10 persen untuk di Desa Jumat. Sebab, 95 persen masyarakat telah setuju pembebasan,'' pungkas Chandra.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini