Twitter Dihantam Peretasan Besar-besaran, FBI Gelar Penyelidikan

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 17 Juli 2020 10:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 17 18 2247772 twitter-dihantam-peretasan-besar-besaran-fbi-gelar-penyelidikan-5wAPgGNZxi.jpg Foto: Okezone/Reuters.

WASHINGTON DC – Biro Penyelidik Federal (FBI) telah meluncurkan penyelidikan terkait peretasan dan pembajakan akun Twitter sejumlah tokoh terkemuka Amerika Serikat (AS) dan menggunakannya untuk penipuan mata uang kripto.

Elon Musk, Bill Gates, dan Joe Biden termasuk di antara tokoh yang terkena peretasan yang disebut oleh Twitter sebagai serangan “berkoordinasi”. Akun mereka digunakan untuk meminta sumbangan dalam bentuk bitcoin dengan menjanjikan pengembalian berlipat ganda.

BACA JUGA: Puluhan Akun Twitter Tokoh Terkenal Diretas untuk Promosikan Penipuan Mata Uang Kripto

"Semua orang meminta saya untuk memberi kembali," kata sebuah cuitan dari akun Pendiri Microsoft Bill Gates, yang diretas. "Anda mengirim USD1.000, saya mengirim Anda kembali USD2.000."

Selain akun selebriti, miliarder, perusahaan, dan kandidat presiden, beberapa akun yang terkait dengan pertukaran mata uang kripto dan layanan keuangan lainnya juga dibajak, semuanya mengirimkan penawaran menipu serupa menggunakan alamat bitcoin yang sama.

Foto: Twitter.

FBI mengatakan bahwa akun-akun itu kemungkinan telah dibobol dan digunakan dalam penipuan mata uang kripton, sementara meminta masyarakat untuk waspada agar tidak tertipu.

Komite Senat Perdagangan AS telah meminta Twitter untuk memberikan pengarahan singkat tentang insiden yang terjadi pada Rabu, 23 Juli itu.

Meski bukan yang pertama, ini merupakan pelanggaran keamanan terbesar yang dialami Twitter dalam beberapa waktu terakhir. Twitter mengatakan peretas telah menargetkan karyawannya yang "memiliki akses ke sistem dan alat internal".

"Kami tahu mereka (para peretas) menggunakan akses ini untuk mengendalikan banyak akun dan Tweet yang sangat terlihat (termasuk yang diverifikasi) atas nama mereka," kata perusahaan itu dalam serangkaian tweet sebagaimana dilansir BBC.

Perusahaan yang bermarkas di California, AS itu menambahkan bahwa "langkah-langkah signifikan" telah diambil untuk membatasi akses ke sistem dan alat internal seperti itu sementara penyelidikan perusahaan berlanjut.

Twitter sementara itu juga telah memblokir penggunanya agar tidak dapat men-tweet alamat dompet Bitcoin yang digunakan dalam penipuan tersebut.

Menurut alamat bitcoin yang disediakan dalam tweet itu, penipuan tersebut telah mengumpulkan hampir USD120.000 dalam mata uang kripto dari lebih dari 350 transaksi.

Dmitri Alperovitch, yang ikut mendirikan perusahaan keamanan cyber CrowdStrike, mengatakan kepada Reuters bahwa "Ini tampaknya merupakan peretasan terburuk dari platform media sosial utama."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini