AUCKLAND - Selandia Baru telah mengunci kembali kota terbesarnya setelah mencatat empat kasus Covid-19 baru, mengakhiri 102 hari berturut-turut tanpa infeksi lokal. Penguncian tiga hari diberlakukan di Auckland setelah kasus-kasus baru itu dikonfirmasi.
Keempat pasien dalam kasus baru tersebut semuanya adalah anggota satu keluarga. Di antara pasien-pasien baru itu tidak ada yang bepergian baru-baru ini. Pihak berwenang berusaha melacak kontak keluarga tersebut.
Auckland, kota berpenduduk sekitar 1,6 juta orang, akan beralih ke pembatasan level tiga mulai pukul 12:00 waktu setempat pada Rabu (12/8/2020). Perdana Menteri Jacinda Ardern yang mengumumkan langkah itu menyebutnya sebagai "pendekatan pencegahan".
BACA JUGA: Selandia Baru Cabut Semua Pembatasan Setelah Nyatakan Bebas Covid-19
Penduduk Auckland akan diminta untuk tinggal di rumah, pertemuan besar akan dilarang, bisnis yang tidak penting akan ditutup, dan beberapa pembatasan jarak sosial akan diberlakukan kembali di seluruh negara.
Perdana menteri mengatakan seluruh negara akan pindah ke level dua dari sistem peringatan 4 tingkat Selandia Baru untuk tindakan melawan Covid-19.
"Ini adalah sesuatu yang telah kami persiapkan," kata Ardern pada konferensi pers sebagaimana dilansir BBC.
"Kami memiliki 102 hari dan mudah untuk merasa Selandia Baru keluar dari kesulitan. Tidak ada negara yang melangkah sejauh yang kami lakukan tanpa kemunculan kembali (virus corona). Dan karena kami satu-satunya, kami harus membuat rencana. Dan kami telah merencanakannya," katanya.
BACA JUGA: Tak Ada Transmisi Komunitas, Selandia Baru Nyatakan Menang Melawan COVID-19
Perdana Menteri Jacinda Ardern juga pada Rabu menunda pembubaran parlemen, menyusul kasus Covid-19 terbaru.
Pembubaran parlemen, yang dibutuhkan untuk pemilihan umum, kini ditunda hingga Senin.
Ardern mengatakan belum ada keputusan yang dibuat tentang penundaan pemilihan, yang semula dijadwalkan pada 19 September.
"Kami punya waktu untuk mengatasinya," katanya, menurut laporan TVNZ.
Selandia Baru bernasib lebih baik daripada negara lain, mencatat 1.220 kasus yang dikonfirmasi dan 22 kematian sejak virus tersebut terdeteksi di negara itu pada akhir Februari.