Potret Perempuan Miskin Hidup di Tengah Himpitan Bangunan Mewah

Mukhtar Bagus, iNews · Jum'at 14 Agustus 2020 16:40 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 14 519 2262341 potret-perempuan-miskin-hidup-di-tengah-himpitan-bangunan-mewah-M0t1qNCu50.jfif Nenek Daimah hidup dalam kemiskinan di tengah bangunan mewah (foto: iNews)

JOMBANG – Kemiskinan masih menjadi persoalan besar yang tengah dihadapi bangsa Indonesia. Bahkan, diusinya yang sudah 75 tahun, bangsa ini belum merdeka dari yang namanya kemiskinan.

Masih banyak masyarakat yang hidup jauh dari kata sejahtera. Seperti yang dialami Daimah (71), seorang wanita di Jombang, Jawa Timur menjadi potret nyata, bagaimana kemiskinan masih menyelimuti negeri ini.

Hidupnya memprihatinkan, jauh dari kata sejahtera. Rumahnya terbuat dari tumpukan karton dan kayu bekas, sedangkan atapnya dari asbes dan seng bekas yang dikumpulkan dari hasil memungut di tempat pembuangan puing.

Saat hujan deras, wanita yang sudah renta itu hanya bisa menggigil kedinginan dengan rasa khawatir gubuknya akan roboh tertiup angin. “Kalo hujan deras tidak bisa tidur, dingin dan takut roboh,” ujar Nenek Daimah dengan mata berkaca-kaca.

rumah nenek

(Bangunan reot tempat tinggal nenek Daimah)

Ironinya, gubuk usang tempat tinggal wanita tersebut berjajar bangunan mewah menjulang tinggi. Ia pun memanfaatkan bagunan rumah warga perumahan Plandi, Parimono itu untuk dijadikan dinding.

Digubuk inilah, nenek Daimah yang tidak memiliki anak dan cucu ini tinggal bersebelahan dengan kandang ayam miliknya.

Nenek Daimah mengaku terpaksa tinggal di gubuk ini karena sejak suaminya meninggal dunia beberapa tahun lalu ia sudah tidak mampu mengontrak rumah lagi.

“Jangankan mengontrak, untuk makan sehari-hari saja sering kurang,” tuturnya. Sehari-hari untuk bisa makan, ia hanya bisa bekerja sebagai buruh cuci atau jasa pijat tradisional.

Meski hidup miskin, tidak sedikit bantuan datang dari tetangganya menwarkan untuk tinggal bersama mereka. Namun, ia selalu menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan orang lain, dan ia tetap memilih hidup di gubuk reot.

Sedangkan tanah tempat gubuk ini didirikan adalah milik warga setempat yang dipinjamkan secara cuma-Cuma. Dengan penuh harapan, nenek Daimah mendapat perhatian dari pemerintah untuk lebih peduli terhadap warga miskin.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini