Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mendagri Tegaskan Harus Ada "Perang" Narasi Meluruskan soal Jihad

Riezky Maulana , Jurnalis-Selasa, 18 Agustus 2020 |08:53 WIB
Mendagri Tegaskan Harus Ada
Mendagri Tito Karnavian (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menolak anggapan aksi terorisme bukanlah sebuah jihad yang berkaitan dengan Islam ataupun sebaliknya. Oleh karenanya, dia menilai harus ada narasi yang melawan argumentasi tersebut dan perlawanan itu tertuang dalam buku Fikih Kebangsaan Jilid III.

Mantan Kapolri ini menuturkan, harus ada perang narasi untuk mengubah dan meluruskan narasi jihad yang salah selama ini. Menurutnya, agar moderasi narasi atau counter narasi lebih kuat, hal itu juga harus disertai dengan ayat-ayat Al Quran dan juga hadis.

Baca Juga: Kondisi Ratusan Eks ISIS Asal Indonesia Memprihatinkan

Hal tersebut diungkapkannya saat menghadiri peluncuran Buku Fikih Kebangsaan Jilid III secara virtual yang disiarkan langsung dari Pondok Pesantren Lirboyo, Jawa Timur, Senin 17 Agustus 2020.

"Buku Fikih Kebangsaan ini, ini sangat penting menjadi counter narasi untuk seluruh pihak. Buku ini, saya baca, saya lega. Ini yang ketiga dari Lirboyo. NU memang benteng NKRI, salah satu pendiri NKRI," ujarnya.

Baca Juga: Mahfud MD: Islam Wasathiyah Cocok untuk Bangsa Indonesia 

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Indonesia (BNPT) ini menjelaskan, hampir semua pelaku teror mengatakan sedang berjihad, padahal, itu pemahaman yang keliru. Menurutnya, ada perbedaan dalam akidah Islam yang dianut oleh para pelaku terror.

"Saya melihat ada satu set narasi yang sama dalam melakukan aksi kekerasan. Mereka banyak sekali menyitir dari satu sumber. Sumber-sumber dari Timur Tengah. Konsep jihad bagi mereka adalah jihad peperangan, qital, bahkan hukumnya wajib ain, bukan fardlu khifayah. Jihad ini bahkan seperti rukun Islam keenam. Bagi mereka, harus dilaksanakan," tuturnya.

Lebih lanjut Tito menuturkan, perkembangan geopolitik dunia mulai berubah sejak medio tahun 2000-an. Tepatnya, ketika peristiwa pembajakan pesawat dan bunuh diri oleh kelompok esktremis Islam, Al-Qaeda 11 September 2001 yang menyerang sejumlah titik di Amerika, salah satunya World Trade Center (WTC).

"Inilah yang mengubah geopolitik dunia. Amerika belum pernah diserang di jantungnya. Amerika membuat global war on terror. Indonesia pun beruntun dikejutkan peristiwa Bom Bali. Disusul berbagai peristiwa teror berikutnya," ucapnya.

Di kesempatan yang sama, Rais Syuriah PCINU Australia dan Selandia Baru Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir menlai buku Fiqih Kebangsaan III ini sangatlah penting. Menurutnya, buku ini dapat mengisi ruang kosong dalam fikih siyasah dan tema-tema khilafah.

Buku ini, sambungnya, bukan pesanan pemerintah, bahkan bukan dari orang liberal. Ini jelas murni dari Lirboyo dan rujukannya pun sangat komplit.

"Buku ini khas manhaj pesantren. Metodologi ini sangat kokoh dan solid. Ini luar biasa, mestinya dikaji dan dibaca juga oleh kelompok di luar pesantren dan kalangan NU. Harus dicetak, dimasukkan kurikilum baik pesantren maupun sekolah umum. Insya Allah bermanfaat," tandasnya.

Sebagai catatan, Gus Mus menambahkan pemahaman jihad yang kurang dalam buku tersebut. Perlu ditambah, yakni pemahaman jihad melawan kebodohan. Sebab, sekarang ini, selain korupsi dan pandemi, yang paling harus dilakukan adalah jihad melawan kebodohan untuk menghilangkan kebodohan.

"Banyak yang enggak ngerti tentang agama, bicara soal agama. Ini amat gawat. Padahal ini soal ruh. Bikin celaka banyak orang. Ini harus diluruskan, salah satunya dengan buku ini," ujarnya.

(Arief Setyadi )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement