Berikut Pemaparan Ahli Soal Banjir Bandang di Sukabumi

Putra Ramadhani Astyawan, Okezone · Jum'at 25 September 2020 18:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 25 525 2283835 berikut-pemaparan-ahli-soal-banjir-bandang-di-sukabumi-LVZzpvqaa6.jpg foto: Sindonews

BOGOR - Banjir bandang yang terjadi di Sukabumi pada Senin 21 September 2020 lalu, merupakan salah satu dari sekian bencana alam di Indonesia.

Langkah awal yang dapat dilakukan dalam mencegah banjir bandang secara mendasar, adalah melalui konsep penataan ruang daerah berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS), dengan menentukan arahan peruntukan untuk kawasan lindung dan budidaya.

Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) dari Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian Ir Qodarian Pramukanto menyampaikan, bahwa bisa diasumsikan, tata ruang existing di wilayah tersebut sudah benar, namun dalam implementasinya dapat terjadi perubahan. Baik karena faktor alam (kekeringan, kebakaran hutan dan faktor lain) atau adanya inkonsistensi dalam implementasi.

 Baca juga: 3 Orang Tewas dan Ratusan Rumah Rusak Akibat Banjir Bandang Sukabumi

"Adanya perubahan tutupan lahan seperti menurunnya tutupan lahan dengan terbentuknya lahan terbuka/gundul, disertai curah hujan yang cukup tinggi (sebelum dan saat kejadian), berpengaruh pada lahan dengan jenis tanah tertentu serta berlereng curam atau terbentuk bidang-bidang gelincir pada lapisan batuannya dapat menyebabkan penurunan stabilitas (daya dukung) lahan yang tidak saja mengakibatkan erosi tetapi juga longsor/landslide (gerakan tanah)," kata Qodarian, dalam keterangannya, Jumat (25/9/2020).

Longsor yang terjadi di sepanjang aliran sungai dapat memicu terbentuknya struktur bendung-bendung alami yang akan menahan, dan mengakumulasi aliran air sungai berupa kolam-kolam besar. Namun apabila kemampuan bendung alami untuk menahan aliran air terlampaui karena curah hujan yang tinggi atau batang-batang kayu yang ikut membentuk struktur bendung alami tersebut melapuk, akan jebol.

 Baca juga: Korban Banjir Bandang Sukabumi Ditemukan 15 Km dari Lokasi Kejadian

"Jika bendung di bagian hulu ini jebol, akan menginisiasi peningkatan debit aliran sungai yang akan menjebol bendung-bendung alam di bagian hilirnya, sehingga secara akumulatif kekuatannya akan semakin meningkat. Apabila peningkatan debit aliran sungai ini melampaui dimensi saluran sungai yang ada, maka aliran sungai tersebut akan meluap dan membanjiri daerah di sekitar saluran sungai. Besarnya kekuatan debit aliran sungai disertai berbagai material berupa kayu, tunggul pohon dan lumpur yang terbawa oleh arus sungai merupakan sumber kerusakan apabila menerjang properti (rumah, kendaraan, jalan, jembatan)," bebernya.

Dalam pemaparannya, Qodarian menerangkan bahwa penataan ruang yang baik adalah menetapkan arahan penggunaan lahan berbasis pada karakteristik sistem DAS (bentuk DAS, proses-proses hidrologis), seperti menetapkan kawasan lindung, kawasan tangkapan air (water recharging area), kawasan perlindungan setempat (jalur hijau sempadan sungai) dan kawasan pengembangan.

"Pemantauan secara reguler terhadap DAS perlu dilakukan, sehingga jika terjadi perubahan tutupan lahan dan perubahan topografi lahan, dapat dilakukan mitigasi dan adaptasi dalam berbagai bentuk respon. Semoga musibah yang terjadi menjadi peringatan bagi kita untuk segera introspeksi atas perilaku yang tidak selaras dengan alam," tutup Qodarian.

(wal)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini