Nantinya, lanjut dia, hanya akan dipilih dua nama untuk diserahkan kepada Presiden Jokowi untuk memilih satu nama. IPW berharap, Kepala Negara memilih figur yang punya pengalaman dan jam terbang yang mumpuni serta pernah menjadi Kapolda di Jawa.
"Sehingga instingnya dalam menjaga keamanan nasional sudah terlatih," kata dia.
Neta menambahkan, persoalan berat yang dihadapi Kapolri ke depan justru persoalan di internalnya dan bukan di eksternal.
"Persoalan kelebihan jenderal, Kombes dan AKBP di Polri adalah persoalan pelik yang jika tidak ditangani akan memunculkan sikut menyikut di kalangan internal," terang Neta.
Ia mengatakan, persoalan mentalitas yang berbuntut tidak promoternya anggota Polri dalam penegakan hukum juga masalah berat yang tak muda diatasi Kapolri ke depan. Selain itu, tidak adanya evaluasi menyeluruh terhadap fasilitas dan sarana prasarana Koprs Bhayangkara juga membuat kepolisian Indonesia seperti tidak terarah, terutama dalam alutsista, IT, dan teknologi kepolisian.
"Begitu juga tidak adanya evaluasi terhadap grand desain kepolisian membuat motto Polri yang Promoter hanya menjadi sebuah kata-kata kosong yang ke depan harus ditata ulang Kapolri baru agar Polri menjadi polisi yang modern," tandasnya.
(Awaludin)