Kisah 5 Anak Selamatkan Diri ke Hutan saat Erupsi Gunung Ile Lewotolok

Adi Rianghepat, Okezone · Selasa 01 Desember 2020 04:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 30 340 2319141 kisah-5-anak-selamatkan-diri-ke-hutan-saat-erupsi-gunung-ile-lewotolok-NkVC5MgRtU.jpg Gunung Ile Lewotolok saat erupsi (foto: BMKG)

KUPANG - Pagi itu, Minggu 29 November 2020, seperti biasa warga dua kecamatan, yaitu Ile Ape, dan Ile Ape Timur di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), normal melakukan aktivitasnya.

Hampir sebagian dari mereka menunaikan ibadah Minggu dengan misa di gereja. Upacara dilakukan khusyuk. Namun tak berapa lama, sebuah ledakan membubarkan suasana itu. Warga pun berhamburan penuh kepanikan. Betapa tidak, bunyi dentuman itu asing dan menyeramkan.

Tak lama berselang di beberapa desa, mulai dihujani abu bercampur kelikir; material vulkanik yang dimuntahkan dari erupsi Gunung Ile Lewotolok. Erupsi pada pukul 09.45 Wita itu adalah erupsi kedua setelah sebelumnya pada Jumat 27 November terjadi erupsi.

Baca juga:

Bandara Ditutup Akibat Erupsi Gunung Ile Ape, Penerbangan Perdana Kupang-Lewoleba Batal

Gunung Ile Ape Meletus, Warga Dua Kecamatan Mengungsi ke Lewoleba   


Erupsi kali ini kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 4.000 m di atas puncak (± 5.423 m di atas permukaan laut) dengan intensitas tebal condong ke arah barat di kolom bagian bawah dan ke arah timur di kolom bagian atas. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 35 mm dengan durasi erupsi 10 menit dan diikuti tremor menerus.

Lagi-lagi panik. Masyarakat pun melakukan evakuasi mandiri. Pilihannya berlari menuju Kota Lewoleba, yang sama sekali tak terdampak semburan erupsi tersebut. Namun, tidak demikian yang dilakukan lima orang bocah. mereka malah memilih hutan sebagai tempat penyelamatan diri. Alhasil, orang tua dan sanak famili panik menangis mencari mereka.

"Sangat ketakutan, empat orang bocah dan seorang remaja itu lalu memilih hutan menjadi tempat penyelematan diri," tutur seorang warga Ile Ape, Raimundus, Senin (30/11/2020).

Empat bocah dan satu pemuda itu berasal dari Desa Waienga, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata semalam suntuk mereka dinyatakan hilang oleh keluarga, karena tak tampak batang hidungnya di lokasi pengungsian. Namun demikian, akhirnya berhasil ditemukan, setelah masyarakat bersama sejumlah pihak melakukan pencarian.

"Mereka ditemukan hari ini Senin di sebuah pondok kebun di desa itu," kata Raimundus.

Pasca-ditemukan, pihak medis langsung melakukan penanganan terhadap kelima orang tersebut. 

"Tadi siang setelah ditemukan kami langsung meminta petugas medis untuk memberikan perawatan dan memastikan kalau kelima anak itu dalam keadaan sehat," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lembata Paskalis Ola Tapobali.

Menurut dia, kelima anak itu telah bergabung bersama keluarganya dalam kondisi sehat. "Ya, mereka ketakutan dan karena itu memilih berlari ke sebuah kebun dan bermalam di pondok kebun tersebut," kata Paskalis.

Kelima anak tersebut, masing-masing Pius Kosmas Aprinaldi (12), Matias Bala (8), Bernardus Boli (12), Sesilia Date (8) serta Philipus Basa (24). Kini kelima anak itu bersama ribuan warga lainnya, sedang berdiam di sejumlah tenda pengungsian, dengan kondisi apa adanya. Betapa tidak, Pemerintah Kabupaten lembata masih mengalami kekurangan sejumlah logistik.

"Kami masih butuh tambahan tikar atau spon untuk tidur, selimut, tenda serta MCK mobile," kata Paskalis.

Setidaknya di kondisi ini, harapan akan bantuan dan donasi masih sangat dibutuhkan demi menyelamatkan para pengungsi, akibat erupsi Gunung Ile Lewotolok itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini