Perjuangan Siswa di Sigi, Seberangi Sungai dengan Mesin Pengeruk untuk ke Sekolah

Djairan, iNews · Rabu 02 Desember 2020 16:44 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 02 340 2320395 perjuangan-siswa-di-sigi-seberangi-sungai-dengan-mesin-pengeruk-untuk-ke-sekolah-dgjRiIozRC.jpg Tangkapan layar media sosial

SIGI – Pandemi Covid-19 ini mengharuskan semua sekolah melakukan proses belajar mengajar via daring atau online. Namun, berbeda dengan yang dialami para pelajar Madrasah Aliyah (MA) Vumbulangi, Desa Bangga, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.

(Baca juga: Rumah Orangtua Mahfud Digeruduk, Perhimpunan Santri: Rizieq Bukan Putra Madura, Kok Dibela?)

Mereka harus tetap mengikuti ujian akhir semester secara tatap muka. Pasalnya, desa mereka belum dijangkau jaringan internet dengan baik pasca bencana alam dua tahun silam. Akibatnya, para pelajar tidak dapat melakukan ujian secara online seperti di sekolah lain.

(Baca juga: Mengejutkan, Ini Alasan Sekelompok Pemuda Serukan Jihad Lewat Adzan)

Melalui unggahan Facebook, pengguna dengan nama akun Hikmah Ladjidji membagikan video yang merekam perjuangan para pelajar MA Vumbulangi Desa Bangga untuk berangkat ke sekolah. Mereka harus menyeberangi sungai dengan menumpai ekskavator atau mesin pengeruk.

“Perjuangan siswa-siswi MA Vumbulangi Desa Bangga, Kabu. Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Mereka harus mengikuti ujian akhir semester secara tatap muka. Di desa tsb jaringan internet tdk tersedia buat ujian secara online,” tulis akun tersebut, dikutip pada Rabu (2/12/2020).

Dalam video berdurasi 20 detik itu tampak para pelajar putri yang tengah diangkut menggunakan ‘belalai’ ekskavator. Bagian pengeruk pada mesin tersebut mampu mengangkut empat orang pelajar. Mereka justru tampak riang, terdengar dari suara gelak tawa di video.

Sementara itu, Hikmah Ladjidji dalam keterangan video yang viral tersebut menjelaskan, kondisi Desa Bangga pasca bencana alam sejak dua tahun lalu memang belum pulih seutuhnya. Bahkan, mara penduduk masih ada yang terpaksa tinggal di hunian sementara (huntara) yang diantaranya banyak dibangun oleh para relawan Lembaga swadaya masyarakat (LSM).

(fmi)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini