Meski Jenuh Tetap Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan 3M

Agustina Wulandari , Okezone · Sabtu 05 Desember 2020 11:58 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 05 1 2322162 meski-jenuh-tetap-disiplin-terapkan-protokol-kesehatan-3m-4XGkt99YqK.jpg Foto : Dok.BNPB

JAKARTA - Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan bahwa Indonesia menjadi satu-satunya negara yang mencatat perubahan perilaku di masyarakat terkait 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun).

Dengan mencatat perubahan perilaku 3M, menjadi upaya agar tidak terjadi penularan Covid-19 yang lebih banyak. Namun sayangnya, ternyata setiap usai libur panjang perubahan perilaku 3M justru menurun, data terakhir hanya mencapai 59,20%. Padahal, sebelumnya perubahan perilaku 3M yang merupakan salah satu standar penerapan protokol kesehatan penanganan Covid-19, sempat mencapai 80% lebih.

“Baru saja kemarin kita analisis, ternyata setiap setelah selesai liburan panjang, perubahan perilakunya untuk pakai masker dan jaga jarak turun. Ada libur panjang lagi turun, libur panjang lagi turun. Kalau terus seperti ini, di ujungnya adalah nol. Apa yang terjadi? Kasusnya pasti sangat tinggi. Jadi, kembali lagi pada kunci perilaku itu penting sekali,” kata Wiku dalam diskusi “Pandemi Belum Berakhir: Patuhi Protokol Kesehatan!” dari Media Center Satgas Covid-19, Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (5/12).

Wiku berharap seluruh komponen masyarakat bisa memetik pelajaran dari pengalaman perubahan perilaku 3M yang cenderung turun usai liburan panjang. Pihaknya sudah mempunyai sistem untuk membaca di seluruh Indonesia perubahan perilaku itu. Seperti berapa puluh persen yang menggunakan masker, yang ternyata belakangan menjadi sangat rendah.

“Karena logikanya begini, jangan tunggu sampai virusnya berhasil menimbulkan korban. Nah caranya gimana? Jangan sampai dia bisa menularkan, maka dilihat dari 3M-nya. Mari, kita sekarang dongkrak perubahan perilaku. Kalau enggak, nanti akan ada banyak orang terpapar. Kita enggak menolerir seperti itu,” tegasnya.

Lebih jauh Wiku memaparkan, efek libur panjang hingga menurunnya perubahan perilaku 3M, berdampak pada kenaikan kasus, bahkan mencapai 100% per harinya. Ia tak segan menyebut saat ini kenaikan kasus Covid-19 semakin menggila. Tercatat, pada Kamis, 3 Desember lalu, penambahan kasus tembus rekor baru, yakni 8.369 kasus.

“Selanjutnya, ini (penambahan kasus baru) menimbulkan kenaikan kasus pada 10 sampai 14 hari kemudian, dan bisa bertahan 1-2 minggu ke depan. Dan naiknya antara 50% sampai lebih dari 100%. Itu selalu polanya seperti itu. Jika tidak dilakukan penanganan secara intens, makin ke sini naiknya akan kian menggila,” tukasnya.

Wiku menjelaskan, sebenarnya ada dua penyebab terjadinya kenaikan kasus yang signifikan. Satu hal yang pasti disebabkan tingkat penularan yang masih tinggi akibat menurunnya perubahan perilaku 3M. Adapun kedua, adanya ketidaksinkronan data antara pusat dan daerah. Belum lagi, Indonesia sebagai negara yang besar dan mengintegrasikan seluruh data jadi satu dan untuk real time, itu perlu waktu.

“Jadi, ada beberapa daerah yang kesulitan memasukkan datanya sehingga terakumulasi, salah satu contohnya adalah Papua yang sudah sejak 19 November sampai dengan kemarin baru memasukkan datanya. Ada 1.700 lebih. Selama ini nol (kasus), (karena diakumulasi) sehingga terjadi lonjakan,” kata dia.

Nah yang paling disesalkan oleh Wiku, sembilan bulan pandemi Covid-19 berlangsung ternyata masih ada masyarakat di Indonesia yang meragukan Covid-19. Bahkan, beberapa waktu lalu Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengungkapkan, masih ada provinsi yang tidak percaya dengan pandemi Covid-19, menganggap pandemi global itu sebagai sebuah konspirasi dan rekayasa. Hal ini juga diperkuat dengan adanya survei dari Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini yang menemukan sebanyak 17% orang Indonesia yakin tidak akan terpapar Covid-19.

“Saya enggak ingin mengatakan excuse tapi saya mau mengatakan bahwa Indonesia itu negara (berpenduduk) besar nomor 4 di dunia, dengan budayanya sangat beragam. Jadi, kemampuan kita untuk bisa menyentuh seluruh masyarakat dengan budaya yang berbeda, cara berpikir yang berbeda, itu kita betul-betul ditantang untuk bisa bergerak bersama, dengan pemahaman yang sama,” kata Wiku.

Jabar Kembali Masifkan Swab Test di Kawasan Industri

Sementara itu dari Jawa Barat, Pemprov setempat melalui Divisi Penanganan Kesehatan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Satgas Penanganan Covid-19 tingkat kabupaten/kota kembali menggencarkan pelaksanaan swab test di kawasan industri.

Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Jabar Daud Achmad mengatakan, swab test di kawasan industri merupakan kolaborasi sejumlah pihak. Pihak BNPB menyediakan perlengkapan swab test, sedangkan tenaga medis berasal dari Satgas Penanganan Covid-19 Jabar dan kabupaten/kota.

"Ini logistiknya, alat tesnya kita dapat dari BNPB melalui pengadaan 12.000 alat tes. Tenaga kesehatannya ini dari satgas kabupaten bekerja sama dengan satgas provinsi,” kata Daud dalam keterangan resminya kemarin.

Bersama Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bekasi dan Forum Komunikasi Koordinasi Sumber Daya Manusia (FKKSM) MM2100, kata Daud, pelaksanan swab test massal tersebut telah dimulai di Kawasan Industri MM2100, Kabupaten Bekasi, Kamis (3/12/2020) kemarin.

Menurut Daud, TNI/Polri pun turut terlibat dalam pengetesan tersebut. Mereka bertugas mengamankan jalannya pengetesan. Selain untuk memutus mata rantai penularan dan mencegah munculnya klaster industri, pengetesan bertujuan memastikan pekerja dalam keadaan sehat.

"Setelah Kawasan Industri MM2100, Satgas Penanganan Covid-19 Jabar akan menggelar tes di kawasan industri lainnya. Nanti kita akan ke kawasan industri di Subang, minggu depan ada di Jababeka, mungkin kita ke kawasan-kawasan lain. Sementara ini kita (fokus) di industri, nanti juga akan ke segmen yang lain," katanya.

Wakil Ketua Divisi Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19 Jabar Letkol Asep Sugiharto mengatakan, swab test kali ini digelar untuk menindaklanjuti adanya beberapa kerumunan yang melibatkan karyawan pabrik.

"Kegiatan tes swab di kawasan industri yang saat ini dilakukan sebenarnya langkah dari pemerintah setelah adanya kerumunan massa beberapa waktu yang lalu seperti demonstrasi dan kerumunan lainnya," terang Asep.

Adapun sasaran swab test kali ini adalah karyawan yang ikut dalam demonstrasi dan karyawan yang keluarganya positif Covid-19. Dengan begitu swab test akan tepat sasaran dan berdasarkan data yang valid. "Jadi ini ada enam kluster prioritas, salah satunya adalah karyawan di kluster industri. Kemudian ke depan juga pilkada sedang kita rapid test, pondok-pondok pesantren, klaster rumah tangga, dan klaster lainnya," katanya.

Sementara itu Ketua FKKSM Kawasan Industri MM2100 yang juga ketua penyelenggara swab test Vidi Christianto melaporkan bahwa swab test kali ini melibatkan 72 perusahaan dan 13.000 karyawan. Rencananya, kata Vidi, swab test masif ini akan digelar selama satu pekan sehingga dalam sehari pihaknya akan mengetes sekitar 2.200 karyawan.

"Kegiatan ini awalnya diikuti 72 perusahaan dan totalnya ada sekitar 13.000 (peserta). Namun untuk awal kick off ini kita melibatkan kurang lebih sekitar 28 perusahaan dengan total peserta sekitar 2.200. Harapannya dari sini kita bisa tracing untuk klaster industri," kata Vidi.

Vidi menambahkan, pihaknya akan bekerja sama dengan Satgas Penanganan Covid-19 dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bekasi dalam melakukan pelacakan kontak erat manakala ada karyawan yang terkonfirmasi positif Covid-19.

"Kita bekerja sama juga dengan Satgas Kabupaten Bekasi, kita juga sudah data berdasarkan perusahaan, tempat tinggal, kelurahan. Di situ kita akan tracing nanti. Jadi dari data ini Dinkes akan follow-up ke rumah-rumahnya. Kalau kita dari perusahaan akan tracing di lingkup internal perusahaan masing-masing," sebutnya. (CM)

(yao)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini