Baginya menang yang hakiki adalah berhasil melawan segala godaan duniawi. "Saya sudah menang sebelum pencoblosan, karena saya menang melawan godaan uang, mobil dan jabatan. Saya menang melawan diam cari selamat. Saya menang melawan pesan pesan dari jkt (Jakarta). Uas jangan berpihak!'. Begini cara saya melawan," tukas pria kelahiran Kabupaten Asahan.
Dia mengakui, atas dukungan terhadap beberapa calon yang dianggap bisa mewakili rakyat banyak hinaan dan cobaan. Namun pria jebolan doktor di Sudan mengaku iklhlas menerimanya.
"Pilkada ajang ujian hati. Kalau tausiyah, orang datang merebut tangan saya untuk bersalaman. Saat pilkada, saya masuk ke pasar, menyalami orang, sambil berpesan 'Jangan lupa ya pak, bu, nanti coblos nomor ...". Dibully, dihina, dicaci maki di medsos itu menyadarkan diri saya bahwa saya bukan siapa-siapa. Kalau terus dimuliakan, disanjung, lama-lama saya bisa jadi fir'aun," ucap ayah Mizyan Haziq Abdillah ini.
(Khafid Mardiyansyah)