"BAPAK-bapak, ibu-ibu, saat ini pandemi Covid-19 sedang melanda bangsa kita. Sudah banyak warga Pamekasan yang positif terpapar virus ini. Maka dari itu, mari kita sama-sama menjaga diri dengan cara selalu menggunakan masker, agar kita tidak mudah terkena virus".
Begitulah petikan imbauan yang disampaikan Babinsa Kodim Pamekasan Koptu Dedy Krisna di Pasar Keppo, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan, Sabtu (2/1/2021).
Sejak, kasus Covid-19 meningkat tajam di Kabupaten Pamekasan dan sejumlah kabupaten lain di Pulau Madura, babinsa yang bertugas di Desa Polagan ini rutin menyampaikan imbauan kepada para pengunjung dan pedagang pada setiap hari pasaran, yakni Selasa dan Sabtu, di pasar tradisional itu.
Ia berkeliling pasar menyampaikan imbauan dengan menggunakan pengeras suara, mulai pukul 11.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB.
Selain karena memang menjadi tugas utama dari komando atas yang telah menugaskan TNI dalam menertibkan pelaksanaan protokol kesehatan di kalangan masyarakat, juga sebagai bentuk tanggung jawab moral sebagai abdi negara pada masyarakat binaannya.
Bagi Koptu Dedy, mengingatkan masyarakat agar taat protokol kesehatan, sejatinya bukan fokus utama tugas TNI. Akan tetapi, karena virus ini sudah menjadi pandemi masyarakat Indonesia dan dunia, maka semua elemen harus terlibat dan ikut bertanggung jawab dalam berupaya mencegah penyebaran, termasuk TNI.
Memang tidak mudah menciptakan kesadaran di kalangan masyarakat arus bawah. Apalagi, ada sebagian oknum masyarakat yang sengaja membuat kabar bohong bahwa Covid-19 merupakan konspirasi yang sengaja diembuskan untuk mendapatkan proyek pemerintah.
Terkadang, imbauan yang disampaikan abdi negara ini justru dibalas dengan cibiran. "Napa pak? Jhek corona nikah ghun cara kaangkhui ajual masker bhen obat", kadang ada yang bilang begitu, ibu-ibu di pasar kalau saya sedang sosialisasi," ucap Dedy, menirukan ucapan warga.
Arti dari ucapan warga itu, kurang lebih, "Apa pak? Corona itu, hanya cara untuk menjual masker dan obat".
Cibiran seperti itu menjadi tantangan tersendiri bagi Koptu Dedy untuk menguji mental dan kesabaran dirinya. Meski di satu sisi, prajurit ini terkadang mengaku kesal juga dengan tudingan tak mendasar sebagian pedagang yang asal bicara.
Baca Juga : 2.269 Pasien di Jakarta Sembuh Covid-19
Kekesalan sang prajurit dan tudingan sebagian pedang sebagaimana pengalaman Koptu Dedy Krisna saat sosialisasi penerapan protokol kesehatan itu memang tidak bisa disalahkan. Sang pedagang berbicara sesuai dengan kapasitas pengetahuan yang dimilikinya dan demikian juga dengan sang prajurit.
Namun, cibiran itu, justru memotivasi dirinya untuk terus berupaya dengan pendekatan yang lebih humanis.
Sikap proaktif dan penolong sang prajurit selalu ditunjukkan setiap kali hendak memulai sosialisasi, seperti membantu menurunkan barang dagangan dari mobil angkutan, hingga membantu menolong para pedagang menyeberang jalan.
"Ternyata, cara seperti ini ampuh. Pedagang ikan yang dulunya ngeyel, akhirnya mau juga memakai masker," tutur Dedy.