Mimbar Emas Senilai Rp14 Miliar Timbulkan Kemarahan di Irak

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 11 Januari 2021 14:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 11 18 2342474 mimbar-emas-senilai-rp14-miliar-timbulkan-kemarahan-di-irak-c61tt7grh0.jpg Foto: Surat Kabar Daring Elaph.

BAGHDAD – Tampilnya seorang ulama Syiah di atas panggung emas senilai USD1 juta (sekira Rp 14 miliar) telah memicu kemarahan yang meluas di Irak di saat negara itu menderita krisis keuangan yang mencekik rakyat. Pemandangan itu memicu serangan kemarahan terhadap seseorang di hussainiya, tempat Syiah di mana platform itu dibangun, demikian dilaporkan media lokal.

Panggung emas, yang juga dikenal sebagai mimbar itu dibuka Istana Zahraa, Baghdad, telah menimbulkan kemarahan di media sosial, dengan warganet menyerukan diberikannya sumbangan seharga mimbar itu kepada orang-orang miskin.

BACA JUGA: Dokter Pribadi Paus Fransiskus Meninggal karena Covid-19

Mimbar biasanya terbuat dari kayu berukir, batu, atau bata. Selain membuat pembicara terlihat oleh para penyembah, mimbar membantu memperkuat suara pembicara. Di zaman modern, mikrofon juga digunakan untuk tujuan ini.

Mimbar tradisional adalah elemen umum arsitektur masjid Islam di seluruh dunia.

Ulama Syiah Ali Al Talqani pekan ini menyampaikan ceramah agama dari mimbar itu, menandai peringatan wafatnya Fatima Az Zahra, putri bungsu Nabi dari Khadijah, di hadapan puluhan orang, demikian diwartakan Gulf News.

“Apakah Nabi Muhammad pernah naik mimbar bertatahkan emas? Bagaimana dia meyakinkan orang miskin dengan asketisme, kesabaran dan permohonan kepada Tuhan, dan sekarang Syiah membangun platform yang dapat mengakhiri kelaparan sekelompok besar orang?,“ tulis Maysa Al Azzawi.

"Dia duduk di atas panggung emas sampai dia memanggil orang-orang untuk bertapa dan kesalehan, dan diakhiri dengan doa untuk yang miskin dan membutuhkan," kata warganet Abu Mohammed.

BACA JUGA: Dokter Pribadi Paus Fransiskus Meninggal karena Covid-19

Para pendukung pemimpin gerakan Sadrist menyerang hussainiya pada Minggu (10/1/2021), menutupnya dengan paksa dan membongkar mimbar. Sementara belum ada sikap yang dikeluarkan oleh otoritas tertinggi Syiah di Irak, Ali Al Sistani, terkait mimbar itu, dan apakah konsisten atau bertentangan dengan ajaran Islam.

Gerakan Sadrist belum mengumumkan bagaimana mereka akan bertindak dengan emas dan batu mulia yang tersemat mimbar tersebut, dan di mana benda itu kini berada.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini