Bayi 16 Bulan Tewas, Presiden Korsel Janji Revisi UU untuk Hukuman Lebih Berat bagi Pelanggar Pelecehan Anak

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 15 Januari 2021 08:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 15 18 2344778 bayi-16-bulan-tewas-presiden-korsel-janji-revisi-uu-untuk-hukuman-lebih-berat-bagi-pelanggar-pelecehan-anak-YU4yR8Y1I6.jpg Foto: Yonhap

SEOUL — Kemarahan dan kesedihan melanda Korea Selatan (Korsel) setelah kematian Jeong-in, bayi berusia 16 bulan akibat pelecehan anak selama berbulan-bulan.

Kasus balita ini terungkap melalui acara pelaporan investigasi SBS awal bulan ini. Sejumlah kelompok sipil dan anggota masyarakat umum telah menyerukan perlindungan yang lebih baik terhadap anak adopsi dan hukuman yang lebih keras terhadap pelanggar pelecehan anak.

Presiden Moon Jae-in pun turun tangan. Presiden  mendesak tindakan yang lebih baik untuk mencegah pelecehan anak, mengkritik pihak berwenang atas kegagalan mereka untuk mencegah kematian Jeong-in dan korban pelecehan anak lainnya.

“Meskipun telah membuat laporan polisi tiga kali, (pihak berwenang) gagal memisahkan (anak dari orang tua angkat) pada awalnya, dan penyelidikan awal dilakukan dengan buruk,” ujar Moon seperti dikutip dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Chung Sye-kyun.

Chung berjanji untuk merevisi undang-undang untuk memberlakukan hukuman yang lebih keras pada pelanggar pelecehan anak dan memberdayakan lembaga pemerintah terkait, serta bergerak untuk memberikan tanggung jawab yang lebih jelas bagi mereka.

(Baca juga: Minta Doa ke Paus Fransiskus, Bintang Playboy Ini Dikecam Netizen)

Dikutip Inquirer.net, kasus ini memicu curahan duka di seluruh negeri, dengan ratusan orang meletakkan bunga, surat, dan hadiah di makam Jeong-in di Yangpyeong, Provinsi Gyeonggi.

Lebih dari 230.000 orang juga menandatangani petisi publik ke Blue House yang meminta hukuman yang lebih keras pada orang tua angkatnya untuk memberi contoh bagaimana negara harus menanggapi kasus pelecehan anak.

(Baca juga: Gagal Tes Antibodi Covid-19, Dua Anggota Tim WHO Dilarang Masuk ke China Selidiki Asal Usul Virus)

Kampanye online yang mengungkapkan penyesalan atas kematian Jeong-in juga melanda negara itu. Sejumlah netizen berbagi tagar seperti #SorryJeongin di media sosial (medsos). Sejumlah selebritas termasuk anggota BTS Jimin bergabung dengan gerakan tersebut dan membuat perhatian lebih besar pada masalah tersebut.

Tak hanya itu, lebih dari 813 orang telah memasukkan nama mereka dalam lotere untuk bisa masuk dalam daftar 51 kursi yang hadir dalam persidangan.

Saat ini, ibu angkat Jeong-in menghadapi tuduhan pembunuhan dan pelecehan anak.

Pengadilan Distrik Selatan Seoul dipenuhi aktivis dan pengunjuk rasa yang menyerukan hukuman mati bagi orang tua angkat Jeong-in. Pengadilan juga dipenuhi dengan bunga dan karangan bunga untuk memperingati kematian Jeong-in.

Diketahui, kasus ini bermula saai bocah 4 tahun dengan piyama ditemukan menggigil kedinginan, menangis di depan sebuah toko di Distrik Gangbuk, Seoul utara sekitar pukul 17:40. pada hari Jumat pekan lalu. Polisi pun meluncurkan penyelidikan terhadap sang ibu angkat atas kemungkinan pelecehan anak.

Kelompok-kelompok sipil telah melancarkan protes dan demonstrasi di seluruh negeri sejak kasus Jeong-in menjadi sorotan awal bulan in. Mereka menyerukan pemeriksaan khusus terhadap polisi dan badan adopsi yang terlibat dalam kasus pelecehan anak itu.

Melalui konferensi pers Kamis (14/1), aktivis hak anak Blue House menuntut pihak berwenang menyelidiki Holt Children’s Services, badan adopsi terbesar di Korea, terkait apakah mereka telah membuat kesalahan dan gagal mencegah kematian balita tersebut.

“Pemerintah harus mencari tahu apakah Holt telah mendeteksi tanda-tanda pelecehan bahkan sebelum diberi tahu,” kata mereka.

Sementara itu, badan adopsi meminta maaf kepada publik tetapi mengatakan pemeriksaan dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan menemukan tidak ada kejanggalan terkait kasus tersebut.

Sejumlah orang juga memberikan donasi kepada kelompok aktivis hak anak seperti Asosiasi Pencegahan Pelecehan Anak Korea dan meminta lebih banyak dukungan untuk hak anak.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini