Kulon Progo Butuh Rumah Sakit untuk Tangani Pasien Covid-19

Antara, · Jum'at 15 Januari 2021 09:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 15 510 2344792 kulon-progo-butuh-rumah-sakit-untuk-tangani-pasien-covid-19-GiHGMK4ql8.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

KULON PROGO - Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyarankan Dinas Kesehatan mendirikan rumah sakit darurat untuk menangani pasien Covid-19 karena rumah sakit rujukan yang ada sudah penuh.

"Ini dikarenakan belakangan di Kulonprogo banyak ditemukan pasien terkonfirmasi Covid-19 bergejala. Untuk itu, kami berpikir untuk mendirikan rumah sakit darurat, bukan menambah ruang isolasi di rumah sakit," kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kulonprogo Fajar Gegana di Kulon Progo, Jumat (15/1/2021).

Fajar mengatakan Rumah Singgah Teratai di kompleks RSUD Wates dan Rusunawa Giripeni bisa digunakan untuk mendirikan rumah sakit darurat. Rumah sakit darurat, menurut dia, dibutuhkan untuk memisahkan pengelolaan penanganan pasien Covid-19.

Dalam menyelenggarakan pelayanan di rumah sakit darurat, ia mengatakan, Dinas Kesehatan bisa menarik tenaga kesehatan dari rumah sakit rujukan dan puskesmas. "Tenaga medis dan alat medis bisa diambilkan dari rumah sakit yang menjadi rujukan, dan pukesmas," katanya.

Fajar mengatakan bahwa penyediaan dana untuk membuka rumah sakit darurat masih dalam pembahasan. "Dari sisi anggaran, kami menunggu regulasinya," katanya.

Jumlah total warga yang terserang corona di Kulonprogo sampai Kamis 14 Januari sebanyak 1.434 orang.

Ruang isolasi untuk pasien Covid-19 di RSUD Wates, RSUD Nyi Ageng Serang, dan tujuh rumah sakit swasta di Kulon Progro sudah penuh.

Baca Juga : 21 Tokoh Divaksin Covid-19 di Balai Kota DKI Hari Ini

Ketua DPRD Kulon Progo Akhid Nuryati mendukung rencana pembangunan rumah sakit darurat untuk menangani pasien Covid-19. "Kami mendukung bila ada rencana pembangunan rumah sakit darurat penanganan Covid-19 supaya pasien terkonfirmasi virus corona dapat ditangani baik dan tidak menimbulkan persoalan di rumah sakit rujukan," katanya.

Akhid mengaku kaget saat mengetahui pada Kamis 14 Januari pasien Covid-19 bertambah sampai 61 padahal pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sudah berjalan dan meminta pemerintah mengevaluasi penerapan kebijakan itu.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini