Pelantikan Biden, Ini Kata Keberagaman Suara Diaspora Indonesia

Agregasi VOA, · Kamis 21 Januari 2021 12:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 21 18 2348307 pelantikan-biden-ini-kata-keberagaman-suara-diaspora-indonesia-67POZ2EVwy.jpg Foto: VOA Indonesia

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Wakil Presiden (Wapres) Kamala Harris baru saja dilantik.

Kemenangan Biden dan  Harris tidak terlepas dari dukungan dan sumbangan suara minoritas yang dimotori oleh para aktivis minoritas pula, termasuk dari diaspora Indonesia.

Namun, di antara diaspora Indonesia juga ada yang tidak memberikan dukungan pada kemenangan pasangan Biden-Harris.

Sinta Penyami Storms adalah salah seorang aktivis diaspora Indonesia yang telah tinggal di kota Philadelphia, negara bagian Pennsylvania sejak 1999. Sinta bekerja sebagai seniman tradisional dan juga aktivis social justice serta pendiri Modero & Company, sebuah kelompok seni tari tradisional berbasis komunitas di kota itu.

Sinta mengaku sebagai pendukung berat Partai Demokrat dan aktivis pemenangan kampanye Biden-Harris.

“Tahun ini memang saya lebih ikut aktif dan giat. Saya dipilih masuk dalam Asian-American Leadership Council untuk kampanye Biden-Harris. Jadi menjelang pemilu itu ikutan aktif untuk kampanye, ikut canvassing (menggalang dukungan dari rumah ke rumah), untuk reli-reli juga untuk membantu memberikan informasi kepada komunitas untuk memilih Joe Biden dan Kamala Harris.”

(Baca juga: Iring-iringan Mobil Trump Disambut Para Pendukung)

Target semua kegiatan kampanye yang ditangani oleh Sinta adalah komunitas Indonesia yang di Philadelphia selatan saja berjumlah sekitar 5000 orang dan dari jumlah itu 30-an persen berhak untuk memberikan suara.

Mengenai pelantikan Biden-Harris yang berlangsung Rabu ini, Sinta mengatakan sangat gembira dan berharap Amerika akan menjadi lebih aman.

(Baca juga: Polisi Temukan 826 Tanaman Ganja di Gedung Dekat Bank Sentral Inggris)

“Tentunya karena saya memang memilih Joe Biden dan Kemala Haris ya kita excited dengan pelantikan ini. Kita punya harapan yang lebih besar Amerika lebih aman, lebih inklusif, lebih menerima perbedaan di antara warga negaranya. Jadi sangat excited.”

Sinta mengatakan, tadinya dia dan para aktivis lain akan mendapat tiket untuk menghadiri acara inagurasi, tetapi karena pandemi, maka rencana itu tidak terealisasi dan para pendukung dianjurkan untuk mengikutinya secara virtual.

Terkait keadaan dan iklim politik di Amerika menyusul pemilu 3 November, Sinta menyatakan keprihatinannya.

“Memang kita semuanya senang tapi dengan kejadian minggu lalu, kita sangat kecewa dengan diserangnya Capitol Hill dan juga dengan melihat ada teman-teman dalam komunitas yang ikut protes. It’s going to be a big job untuk administrasi yang baru.”

Sinta mengatakan, negara yang kini seakan terbelah merupakan pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintahan Biden karena, katanya, “hampir 50 persen warga Amerika memilih calon Partai Republik, Donald Trump.” Dia menambahkan pemerintahan yang baru harus bisa membuktikan bahwa mereka memenuhi janji-janji selama kampanye terutama tentang inklusivitas dan keberagaman. Untuk merangkul semua warga, dia menekankan bahwa semuanya harus dimulai dari pemimpin.

“This is going to start from the top, pesan apa yang ingin disampaikan yang akan membuat warga Amerika merasa oke, memang berarti Partai Demokrat juga memikirkan semua warganya, bukan hanya yang merah atau yang biru.”

Sementara itu, Melvin Felixs berbeda pandangan politik dengan Sinta Penyami Storms. Dia adalah seorang dispora Indonesia berusia 29 tahun yang tinggal di kota Los Angeles, negara bagian California sejak 2006.

Melvin berterus terang menyatakan sebagai pendukung berat Donald Trump. Tentang pilihan politik itu dia menyatakan alasannya.

“Saya pendukung berat Presiden Trump karena Trump Presiden itu dia orangnya bersih, bersikukuh.Saya suka karakternya karena dia berbicara apa adanya, dan di sini kebetulan negara di mana orang bebas berbicara. Jadi kita bisa berpendapat, dan selama itu benar kita harus mendukung dan menyatakan kalau kebenaran itu benar-benar, bukan suatu kebohongan,” ujarnya.

Atas dasar pendapatnya itu Melvin mengaku tidak takut menjadi aktivis Partai Republik walaupun mayoritas penduduk di kota dan negara bagian tempat tinggalnya adalah Demokrat. Menurut Melvin, karena kiprahnya itu dia juga mendapat cemooh dari teman-temannya.

“Saya sendiri mengalami diserang berbagai teman dan teman kerja dan dari sosial media. Ini saya tidak sangka kalau akan terjadi perpecahan antara left and right di Amerika yang selama ini belum pernah terjadi, dan ini cukup mengagetkan bahwa tiap orang punya perbedaan pendapat tapi kok ini sampai sedemikian rupa, sampai sedrastis ini, sehingga membuat satu sama lain bertentangan.”

Mengenai pertentangan dan perpecahan yang terjadi, Melvin merasa optimistis. “Memang terjadi perpecahan, tapi saya yakin kesusesan dan kebenaran itu akan menyatukan kita kembali karena kita bukan suatu bangsa yang bisa terpecahkan. Ini hanya satu perbedaan pendapat dan saya yakin dan percaya hanya waktu yang akan menjawab dan kebohongan tidak mungkin bisa tertutup sampai selama-lamanya. Suatu saat kebenaran akan terjadi dan kita semua akan menjadi satu dan sukses bisa membawa kita menjadi satu kembali.”

Kepada VOA dia terus terang mengatakan tidak berharap banyak dari pemerintahan Biden-Harris.

“Terus terang kalau saya pribadi tidak menaruh pengharapan pada pemimpin yang tidak punya visi dan misi karena sejak dia maju untuk mencalonkan diri menjadi calon presiden dia tidak pernah menyampaikan visi dan misi, tetapiceritanya hanya untuk menyerang Presiden Trump dan akan membalik semua pekerjaan Presiden Trump. Menurut saya itu tidak benar.”

Melvin mengatakan bahwa tidak seperti pada 2016, pada pemilu lalu dia dan para pendukung Presiden Trump keluar dan ikut gencar berkampanye di California sehingga memberikan warna yang berbeda, yakni bukan hanya biru (Demokrat), tetapi juga merah (Republik).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini