PPKM Tahap Pertama, 189 Hajatan Terjaring Operasi Yustisi

Taufik Budi, Okezone · Senin 25 Januari 2021 21:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 25 512 2350671 ppkm-tahap-pertama-189-hajatan-terjaring-operasi-yustisi-SAP3Jt2UL5.jpg Gubernur Jawa Tengah, Ganjar (foto: Okezone.com)

SEMARANG – Sebanyak 3.665 pelanggar terjaring operasi yustisi selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), Jawa-Bali jilid pertama di Jawa Tengah. Petugas mengenakan tindakan bervariatif mulai teguran hingga penutupan usaha.

“Dari operasi yustisi jumlah pelanggaranya ada 3.665 pelanggar. Ini ada restoran, kafe, dan rumah makan sebanyak 732, PKL sebanyak 1.403, pasar tradisional dan modern sebanyak 595, tempat hiburan 33, hajatan masih ada 189, keagamaan ada 3, dan olahraga dan seni 57 pelanggaran,” kata Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Senin (25/1/2021).

“Objek (wisata yang melakukan pelanggaran) ada 133 lokasi, hotel dan penginapan 26, dan lainnya 504. Dari pelanggaran-pelanggaran itu, sebanyak 1.998 diberikan sanksi teguran tertulis, 873 dilakukan penertiban dan penutupan atau penyegelan sebanyak 794," jelas Ganjar.

Baca juga:  DPR Minta Evaluasi PPKM Berdasar Data

Dia juga menerangkan, selama PPKM jilid I menunjukkan tren yang bagus di Jawa Tengah. Hal itu dibuktikan dengan tingkat keterpakaian rumah sakit di provinsi ini jauh di bawah rata-rata daerah lain. Angka keterpakaian tempat tidur di rumah sakit rujukan seluruh provinsi di Indonesia, hanya Jateng dan Bali yang memiliki skor bagus.

"Alhamdulillah kalau melihat dari angka keterpakaian tempat tidur di rumah sakit rujukan, Jateng itu di angka 66,67 persen dan Bali 60,32 persen. Ini bagus, karena yang lainnya di atas 70 persen," lugasnya.

Baca juga: Anggota DPR Usul Lockdown Akhir Pekan Atasi Covid-19, Begini Mekanismenya

Dari hasil tersebut dipastikan seluruh elemen di Jateng bekerja keras. Selain itu, langkah penambahan tempat tidur baik isolasi maupun ICU juga dapat dilaksanakan dengan baik.

"Memang kemarin ada beberapa masukan, termasuk terkait PKL dan tempat makan yang memang butuh perhatian penuh karena mereka tidak cukup mudah dalam berjualan. Maka ada dua cara yang dilakukan, yakni mereka mau menjaga jarak dengan terbatas dan take away," terangnya.

(wal)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini