AS Berlakukan Sanksi Tambahan terhadap Myanmar, Bekukan Aset hingga Ekspor yang Diperketat

Agregasi VOA, · Jum'at 12 Februari 2021 06:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 12 18 2360828 as-berlakukan-sanksi-tambahan-terhadap-myanmar-bekukan-aset-hingga-ekpor-yang-diperketat-Zvblrnv1io.jpg Presiden AS Joe Biden (Foto: Reuters)

“Keterlibatan berkelanjutan, pencegahan isolasi Myanmar dan agar Amerika memainkan peran konstruktif dalam mencoba mencapai konsensus yang luas ini,” jelas Tai Wei Lim, peneliti di Institut Asia Timur, Universitas Nasional Singapura.

Direktur Institut Kissinger untuk China dan Amerika Serikat, lembaga riset Woodrow Wilson Center, Robert Daly, mengatakan kudeta di Myanmar terjadi setelah adanya tuduhan terjadinya kemunduran demokrasi di wilayah tersebut. Termasuk di Brunei, Vietnam, Laos, Kamboja, dan Filipina.

Dia menjelaskan, mengatasi kemunduran tersebut di negara-negara itu dalam konteks persaingan strategis dengan China dipandang sebagai tantangan bagi pemerintah.

“Bagaimana kita akan berkompromi dan memainkan peran jangka panjang dan menjaga saluran tetap terbuka bahkan dengan rezim yang kita tidak setujui? Bagaimana kita bisa melakukan itu dan mundur dari deklarasi prinsip, untuk bersaing dengan China sambil tetap mengklaim bahwa dasar persaingan kita dengan China boleh dikatakan ideologis?,” ujarnya.

Sementara itu, Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan mengatakan ada dukungan bipartisan untuk sanksi terhadap Myanmar tetapi dia mengakui Amerika juga punya pekerjaan rumah di dalam negeri. “Menyatukan negara kita, merevitalisasi fondasi demokrasi kita sendiri, membangun lebih banyak persatuan, seperti yang dibicarakan oleh Presiden Biden – itu semua akan menjadi bagian penting dari kita yang beroperasi secara efektif di dunia,” terangnya.

Para analis mengatakan beberapa sekutu mungkin mempertanyakan keputusan Amerika di kawasan itu, mengingat kebijakan luar negeri Washington bergeser dengan setiap pemerintahan baru.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini