AS Berlakukan Sanksi Tambahan terhadap Myanmar, Bekukan Aset hingga Ekspor yang Diperketat

Agregasi VOA, · Jum'at 12 Februari 2021 06:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 12 18 2360828 as-berlakukan-sanksi-tambahan-terhadap-myanmar-bekukan-aset-hingga-ekpor-yang-diperketat-Zvblrnv1io.jpg Presiden AS Joe Biden (Foto: Reuters)

WASHINGTON — Pemerintah Amerika Serikat (AS) memberlakukan sanksi baru terhadap para pemimpin militer Myanmar, bisnis dan anggota keluarga mereka. Hal ini menyusul aksi protes yang terus berlanjut di negara itu setelah kudeta militer pada 1 Februari lalu.

Sanksi itu merupakan tambahan dari yang sudah diterapkan mulai tahun 2017 untuk kekejaman terhadap minoritas Rohingya di Myanmar.

“Kami akan mengidentifikasi target putaran pertama minggu ini dan kami juga akan memberlakukan kontrol ekspor yang ketat. Kami membekukan aset Amerika yang bermanfaat bagi pemerintah Burma, sambil mempertahankan dukungan kami untuk perawatan kesehatan, kelompok-kelompok masyarakat madani, dan berbagai bidang lain yang secara langsung menguntungkan rakyat Burma,” terang Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden.

Dengan ikatan ekonomi yang terbatas, dan sanksi yang sudah diberlakukan, pengaruh AS terhadap Myanmar menjadi terbatas. Menurut para analis, sanksi yang menarget junta itu yang sesuai dengan yang diberlakukan oleh sekutu-sekutu Amerika bisa efektif.

(Baca juga: Gedung Putih Kutuk Serangan Bandara Arab Saudi)

“Mungkin bekerja sama dengan pihak lain, Jepang misalnya, yang merupakan pemain ekonomi yang lebih besar, Amerika dapat ikut sedikit mengubah analisis untung-rugi dan mendorong kompromi serta mengembalikan demokrasi. Tetapi salah jika kita berpikir bahwa kita akan menjatuhkan sanksi dan Min Aung Hlaing akan mengatakan, ‘Maaf, kami salah,” ungkap Gregory Poling, peneliti senior untuk Asia Tenggara di Pusat Kajian Strategis dan Internasional (CSIS) di Washington, D.C.

“Saya rasa sebelumnya tidak pernah seefektif ketika para pejabat Amerika pergi ke negara-negara di Asia Tenggara untuk berceramah, tetapi sekarang mereka akan ditertawakan,” lanjutnya.

Dia menjelaskan Washington juga bekerjasama dengan sekutu-sekutu regionalnya, termasuk Jepang, India, dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), yang telah mengisyaratkan dukungan mereka untuk uluran tangan Amerika ke Myanmar.

(Baca juga: Varian Baru Covid-19 Inggris Diprediksi akan Melanda Seluruh Dunia)

“Keterlibatan berkelanjutan, pencegahan isolasi Myanmar dan agar Amerika memainkan peran konstruktif dalam mencoba mencapai konsensus yang luas ini,” jelas Tai Wei Lim, peneliti di Institut Asia Timur, Universitas Nasional Singapura.

Direktur Institut Kissinger untuk China dan Amerika Serikat, lembaga riset Woodrow Wilson Center, Robert Daly, mengatakan kudeta di Myanmar terjadi setelah adanya tuduhan terjadinya kemunduran demokrasi di wilayah tersebut. Termasuk di Brunei, Vietnam, Laos, Kamboja, dan Filipina.

Dia menjelaskan, mengatasi kemunduran tersebut di negara-negara itu dalam konteks persaingan strategis dengan China dipandang sebagai tantangan bagi pemerintah.

“Bagaimana kita akan berkompromi dan memainkan peran jangka panjang dan menjaga saluran tetap terbuka bahkan dengan rezim yang kita tidak setujui? Bagaimana kita bisa melakukan itu dan mundur dari deklarasi prinsip, untuk bersaing dengan China sambil tetap mengklaim bahwa dasar persaingan kita dengan China boleh dikatakan ideologis?,” ujarnya.

Sementara itu, Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan mengatakan ada dukungan bipartisan untuk sanksi terhadap Myanmar tetapi dia mengakui Amerika juga punya pekerjaan rumah di dalam negeri. “Menyatukan negara kita, merevitalisasi fondasi demokrasi kita sendiri, membangun lebih banyak persatuan, seperti yang dibicarakan oleh Presiden Biden – itu semua akan menjadi bagian penting dari kita yang beroperasi secara efektif di dunia,” terangnya.

Para analis mengatakan beberapa sekutu mungkin mempertanyakan keputusan Amerika di kawasan itu, mengingat kebijakan luar negeri Washington bergeser dengan setiap pemerintahan baru.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini