Pasca-Terkurung 3 Hari di Dalam Keraton Solo, 2 Putri Raja Ziarah ke Imogiri

Bramantyo, Okezone · Senin 15 Februari 2021 08:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 15 512 2362046 pasca-terkurung-3-hari-di-dalam-keraton-solo-2-putri-raja-ziarah-ke-imogiri-JRKi5RV6WG.jpg Dua putri raja saat ziarah ke makam para raja di Imogiri (foto: ist)

SOLO - Pasca keluar dari dalam Keraton Solo setelah 3 hari terkunci, dua putri Raja, di antaranya adik Raja Hangabehi atau Putri Paku Buwono (PB) XII GKR Wandansari alias Koesmoertiyah (Gusti Moeng), dan Putri Raja PB XIII GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani langsung berziarah ke makam para raja-raja di Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Selain kedua keturunan Raja, para Sentono serta para abdi dalem ikut serta. Termasuk dua penari Tari Bedaya, yakni Ika Prasetyaningsih dan Bulan Semayani Milawarna, serta seorang sentana dalem, KRMH Saptono Djati, juga ikut.

Baca juga: Kisruh Keraton Solo, Muncul Raja Kembar hingga Kisah Putri Terkunci

GKR Wandansari mengatakan, selain untuk berziarah ke makam para leluhur pendiri Kerajaan Mataram, juga untuk memanjatkan doa Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar kondisi Keraton Kasunanan kembali bersatu seperti dulu lagi.

"Hari ini saya langsung ke makam para leluhur untuk mendoakan para leluhur, dan meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar Keraton Surakarta kembali baik, aktivitas budaya terus berjalan dan rukun damai semuanya," papar Gusti Moeng -panggilan akrabnya- pada MNC Portal Indonesia.

 Baca juga: 2 Putri Raja Akhirnya Bisa Keluar Setelah Terkurung 3 Hari di Keraton Solo

Selain itu, Gusti Moeng pun mendoakan agar orang-orang yang menghalang-halangi perdamaian antara Sinuhun Pakubuwono XIII dan adik-asiknya dengan mengaku sebagai utusan Raja, segera pergi dari Keraton.

"Orang-orang yang tidak berkepentingan yang mengaku utusan raja, yang malah justru memperkeruh suasana Keraton Surakarta dan menghambat perdamaian antara kakak dan adik, segera pergi dari Keraton," ujarnya.

Gusti Moeng yang juga Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Kasunanan ini mengaku sangat prihatin melihat kondisi Keraton saat ini.

Pasca konflik 2017 yang berujung pengusiran dirinya dan anggota keluarga trah Mataram serta para Sentono dan Abdi Dalem lainnya yang dianggap berseberangan dengan Pakubuwono XIII, pada 15 April 2017 silam, sejak saat itu dirinya dan keluarga besar lainnya tidak bisa masuk lagi kedalam Keraton.

Pasalnya, seluruh akses masuk kedalam ditutup. Dan harus mendapatkan ijin dari PB XIII untuk bisa masuk.

"Sehingga kegiatan aktifitas adat dan budaya yang berada di dalam karaton tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya di karenakan tertutupnya semua akses masuk bagi sentono dalem, abdo dalem garap (abdi dalem yang bekerja setiap harinya di dalam karaton)," terangnya.

Menurut Gusti Moeng, ada hikmah dibalik dirinya dan Keponakannya (Putri PB XIII) terkunci didalam Keraton. Dimana dirinya bisa melihat dan mengabadikan kondisi di dalam Keraton pasca pengusiran 2017 yang sangat memprihatinkan.

Dimana banyak yang bangunana cagar budaya yang rusak, tidak terawat.

"Dan ada upaya pembiaran dari yang berkuasa saat ini di dalam keraton dan sebagian besar sudah berhasil saya dokumentasikan," papar Gusti Moeng.

Seperti yang diberitakan sebelimnya, dua putri Raja, GKR Wandansari alias Koesmoertiyah (Gusti Moeng) dan Putri Raja PB XIII GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani bersama dua penari tarian Bedaya dan Sentono terkunci didalam Keraton selama 3 hari 2 malam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini