JAKARTA - Perkembangan kasus aktif di tingkat nasional saat ini berada pada angka 12%. Sedangkan target pemerintah adalah menurunkan angka kasus aktif dengan meningkatkan angka kesembuhan pasien Covid-19 dan menghindari angka kematian. Karena itu, pemerintah terus mengupayakan pengobatan Covid-19 melalui berbagai kajian ilmiah yang terus dikembangkan, salah satunya yaitu terapi plasma konvalesen.
Deputi Bidang Penelitian Translasional dan Kepala Laboratorium Hepatitis, Lembaga Eijkman, dr. David Handojo Muljono mengatakan ada dua faktor penentu keberhasilan terapi plasma konvalesen dalam sembuhnya pasien Covid-19.
“Memang ini bervariasi karena ada dua hal yang sangat menentukan yaitu donornya, donor itu termasuk ketersediaannya dan juga antibodinya. Nah itu aspek donor,” ungkap David dalam dialog “Pekembangan Penggunaan Plasma Konvalesen Dalam Pengobatan Covid-19” secara virtual, Senin (1/3/2021).
Faktor penentu lainnya dari aspek timing. “Sedangkan aspek pasien adalah timing. Nah, timing ini penting itu. Timing artinya harus dini, dini dalam arti waktu tapi juga dini dari arti penyakit. Penyakitnya jangan tunggu terlambat tapi sedang yang nantinya mengarah ke berat, itu sudah seyogyanya sudah diberikan,” jelas David.
Baca Juga: Gagal Divaksin Covid-19, Bima Arya Sumbang Jatahnya ke Relawan Pengatur Lalu Lintas