Mitos Dusun Ngagklik Buat Pejabat hingga Bidan Tak Berani Masuk, Begini Ceritanya

INews.id, · Minggu 07 Maret 2021 14:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 07 512 2373763 mitos-dusun-ngagklik-buat-pejabat-hingga-bidan-tak-berani-masuk-begini-ceritanya-PJNkMR1XuR.jpg Ibu melahirkan di Dusun Ngagklik (foto: iNews)

REMBANG – Pejabat, bidan, hingga Pegawai Negeri Sipil (PNS) takut untuk masuk ke Dusun Ngaglik, Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, lantaran adanya mitos yang menceritakan siapapun yang berani masuk ke dusun itu akan tertimpa sial, hingga dicopot dari jabatanya.

Alhasil dusun yang berpenghuni sekitar 40-an kepala keluarga (KK) itu kerap dirugikan karena mereka mendapatkan perlakuan tidak adil. Salah satunya bidan desa yang enggan melayani langsung, sebelum maupun sesudah ibu dari Dusun Ngagklik melahirkan.

Baca juga: TNI-Polri Dampingi Bidan Desa Tracing Warga, Putus Mata Rantai Covid-19

Tokoh masyarakat Dusun Ngaglik, Sukarjan mempertanyakan mitos tersebut lantaran banyak orang tidak mengedepankan logika secara rasional. Ia beralasan sebagai umat beragama mestinya memahami nasib, pangkat, hingga jabatan sudah digariskan Tuhan bukan ditentukan karena masuk Dusun Ngaglik.

Baca juga:Kisah Bidan yang Cintanya Kandas karena Jadi Sopir Taksi Online

“Segala sesuatu atas kehendak Allah SWT. Kalau cuma masuk Ngaglik saja, menjadikan pangkat dicopot kan nggak mungkin, “ kata Sukarjan, Minggu (7/3/2021).

Menurutnya, sudah banyak riwayat pegawai pemerintah menolak masuk Dusun Ngaglik. Ia mencontohkan bidan desa. Ibu melahirkan di desa lain rutin dijenguk dan dilayani bidan. Tapi khusus ibu-ibu melahirkan di kampungnya tidak mendapatkan pelayanan semacam itu.

“Kami juga ingin memperoleh pelayanan yang sama, masak akan begini terus sampai anak cucu kelak. Tolonglah, yang masuk akal, “ katanya.

Ia menceritakan saat ada proyek bantuan pemerintah, pegawai yang akan monitoring dan evaluasi lebih memilih datang ke Balai Desa Kedungasem. Untuk cek lokasi, biasanya diwakilkan kepada perangkat desa.

“Pernah ada bantuan sumur. Pegawainya di balai desa, lalu kameranya dititipkan pak perangkat desa. Perangkat desa yang ngalahi datang ke sini, “ ujarnya.

Tak hanya aparat pemerintah, rasa takut masuk Dusun Ngaglik juga menghinggapi para pekerja seni dan pelaku usaha lain. Sehingga warga yang ingin punya hajat di dalam dusun ini, tidak pernah ada grup seni tayub maupun ketoprak yang berani tampil.

Bahkan, tukang penggergajian kayu ketika ada warga Dusun Ngaglik berniat memotong kayu meminta supaya kayu diangkut keluar dusun dulu.

“Saya sendiri mengalami mas. Kayu saya angkut keluar dusun. Kan akhirnya harus tambah anggaran untuk angkutan, tambah tenaga, tambah waktu. Jadi nggak hemat. Itu baru soal mau motong kayu lho, belum yang lain, “ ujarnya.

Perlakuan tidak adil yang diterima masyarakat Dusun Ngaglik pernah disampaikan kepada Bupati Rembang, Abdul Hafidz. Hafidz bahkan sempat berjanji akan datang ke Dusun Ngaglik bersama para pejabat untuk mengkampanyekan bahwa Ngaglik tidak seseram yang dibayangkan. Tapi sayang, sampai sekarang rencana itu belum terlaksana.

“Waktu di Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Sumber, Pak Bupati janji begitu. Langsung saya sampaikan kepada masyarakat. Warga ya seneng, tapi nyatanya juga belum ada datang ke sini. Pak Bupati kan kiai, masak nggak berani, “ katanya.

Sukarjan ingin supaya mitos masuk Dusun Ngaglik ketiban sial perlahan bisa hilang. Kalau terbelenggu mitos, pihaknya khawatir dusunnya akan sulit maju. “Yang sana-sana sudah berlarian, sini kok masih jalan di tempat. Kita juga pengin setara, “ ujarnya.

Di balik rentetan kisah tidak mengenakkan itu, menurut Sukarjan, terselip sisi positif. Sejak kecil sampai berusia 42 tahun, ia tidak pernah mendengar ada warga Dusun Ngaglik kemalingan karena diduga pelaku kejahatan juga takut masuk ke dalam kampungnya. Bahkan Sukarjan menyebut Dusun Ngaglik seperti memperoleh dispensasi kriminal.

“Motor lupa ditaruh di luar rumah sampai pagi ya aman-aman saja. Sisi positifnya itu, dispensasi kriminal, karena maling takut masuk sini, “ ujarnya.

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini