3.000 Perawat Gugur Akibat Covid-19

Susi Susanti, Koran SI · Kamis 11 Maret 2021 10:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 11 18 2376033 3-000-perawat-gugur-akibat-covid-19-xQSGBTW98b.jpg Perawat di rumah sakit mengurus pasien Covid-19 (Foto: Reuters)

JENEWA - Setidaknya 3.000 perawat meninggal akibat Covid-19. Hal ini diungkapkan federasi perawat global pada Kamis (11/3) saat memperingatkan eksodus petugas kesehatan yang trauma akibat pandemi.

Tepat satu tahun sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pertama kali mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi, Dewan Perawat Internasional (ICN) mengatakan kelelahan dan stres telah membuat jutaan perawat mempertimbangkan untuk berhenti dari profesinya.

Begitu pandemi selesai, jumlah perawat berpengalaman yang semakin berkurang harus menangani banyaknya jumlah pasien yang menumpuk di rumah sakit.

Jumlah korban perawat yang meninggal akibat Covid-19 ini dikumpulkan dari hanya 60 negara. Federasi mengatakan angka ini kemungkinan besar terlalu rendah dari jumlah keseluruhan.

Kepala eksekutif ICN Howard Catton mengatakan para perawat telah mengalami "trauma massal" selama pandemi, tertekan hingga kelelahan fisik dan mental.

(Baca juga: Patung Buddha "Donald Trump" Viral di China)

"Mereka telah mencapai titik di mana mereka telah memberikan semua yang mereka bisa," katanya kepada wartawan.

Catton mengatakan tenaga kerja global yang terdiri dari 27 juta perawat diperkirakan akan kehilangan sekitar enam juta orang akibat pandemi dan empat juta perawat yang akan pensiun pada 2030.

Melalui sebuah laporan, ICN mengatakan pandemi "dapat memicu eksodus massal dari profesi tersebut", sejak paruh kedua tahun 2021. Kekurangan perawat global dapat meluas hingga hampir 13 juta.

"Kita bisa berada di jurang," kata Catton.

Dia mengatakan butuh tiga hingga empat tahun pelatihan untuk menghasilkan perawat pemula.

(Baca juga: Kudeta Myanmar, Dua Anak Pemimpin Militer dan 6 Perusahaan Masuk "Daftar Hitam")

Dia menjelaskan perawat telah melakukan "pekerjaan" fenomenal "untuk memimpin dunia melalui pandemi ini". Para perawat ini akan berbagi platform yang sama dengan pembuat vaksin dalam sejarah akhir Covid-19.

Tetapi begitu pandemi telah berlalu, perawat yang kelelahan kemudian harus berurusan dengan semua kebutuhan perawatan kesehatan dan daftar tunggu yang tidak terpenuhi, sementara juga menghadapi kemungkinan kekurangan staf.

Sementara itu, WHO ingin agar petugas kesehatan di semua negara divaksinasi dalam 100 hari pertama tahun 2021.

Catton mengatakan perawat adalah garis awal daripada garis akhir, dan menyuarakan "keprihatinan besar" pada distribusi vaksin yang tidak merata antara negara-negara kaya dan miskin.

“Bagi perawat, menghadapi peningkatan risiko infeksi, imunisasi adalah tentang hak mereka untuk dilindungi di tempat kerja,” terangnya.

"Tidak dilindungi di tempat kerja menambah kesusahan mereka,” lanjutnya.

Mengingat apresiasi publik yang ditunjukkan kepada perawat pada tahap awal pandemi, Catton mengatakan saat ini para perawat lebih suka mendapatkan vaksin daripada tepuk tangan.

ICN sangat menganjurkan agar semua perawat disuntik vaksin Covid-19.

"Ini adalah masalah perlindungan dan keselamatan pasien," ujarnya.

"Jika seseorang tidak memiliki vaksin maka mungkin Anda harus melihat penempatannya kembali ke daerah lain,” jelasnya.

Didirikan pada 1899, ICN adalah federasi yang menaungi lebih dari 130 asosiasi keperawatan nasional.

Federasi ini meminta pemerintah untuk berinvestasi dalam melatih lebih banyak perawat baru untuk mengatasi kekurangan global.

Federasi juga menyerukan pembayaran yang lebih baik untuk mendorong staf perawat yang ada untuk mendukung sistem kesehatan untuk krisis di masa depan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini