Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kontroversi Supersemar: Bung Karno Terancam Baku Tembak Ajudan dengan 2 Jenderal

Fahmi Firdaus , Jurnalis-Kamis, 11 Maret 2021 |06:15 WIB
Kontroversi Supersemar: Bung Karno Terancam Baku Tembak Ajudan dengan 2 Jenderal
Foto:Ist
A
A
A

SURAT Perintah 11 Maret 1966 alias Supersemar diterbitkan tepat 55 tahun silam. Surat yang penuh kontroversi tersebut mengubah arah perjalanan republik ini. Mengubah rezim Orde Lama pimpinan Presiden pertama RI Ir Soekarno, menjadi awal rezim Orde Baru di bawah Presiden kedua RI Soeharto.

(Baca juga: Aksi Usman Harun dan Sosok Gani yang Misterius di Pusaran Teror Bom Singapura)

Dibalik keluarnya surat tersebut, ada kisah menarik yang dituturkan seorang (mendiang) saksi sejarah, terkait kontroversi Supersemar. Dini hari saat surat itu ditandatangani Presiden RI pertama, Soekarno, hampir terjadi baku tembak seorang ajudan pribadinya dengan sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat (AD).

(Baca juga: Janji Palsu Dai Nippon Berujung Pemenggalan Prajurit PETA di Pantai Ancol)

Adalah Soekardjo Wilardjito yang sempat merasa harus mempertaruhkan nyawanya sendiri demi keselamatan si Bung Besar. Sebuah kejadian yang cenderung pemaksaan pada Soekarno untuk menandatangani mandat Supersemar, di mana isinya memberi wewenang pada Pangkopkamtib Mayjen Soeharto, untuk meredakan situasi keamanan dan ketertiban.

Supersemar itu dibawakan empat perwira tinggi (bukan tiga seperti yang selama ini dipaparkan), yakni Brigjen TNI M Jusuf, Brigjen TNI Amir Machmud, Brigjen TNI Basuki Rahmat, serta Mayjen Maraden Panggabean.

Kala itu, keempatnya datang ke Istana Bogor pada pukul 01.00 dini hari, tepat ketika Sang Proklamator hendak pergi tidur. Dalam buku “Mereka Menodong Bung Karno” yang rilis pada 2008, Wilardjito menuturkan:

“Hanya mengenakan baju piyama, Bung Karno menemui keempat jenderal tersebut. Lantas Jenderal M Jusuf menyodorkan sebuah surat dalam map warna merah jambu. Setelah membaca surat tersebut dengan nada terkejut, Bung Karno spontan berkata, ‘Lho, diktumnya kok diktum militer, bukan diktum kepresidenan!’,” tulis Wilardjito meniru kata-kata Bung Karno.

“Untuk mengubah, waktunya sudah sangat sempit. Tanda tangani sajalah, paduka. Bismillah, sahut Brigjen Basuki Rahmat yang diikuti M Panggabean mencabut pistol FN 46 dari sarungnya. Secepat kilat, aku juga mencabut pistol,” tambahnya.

“Jangan! Jangan! Ya sudah kalau mandat ini harus kutandatangani. Mungkin aku akan meninggalkan istana, hati-hatilah engkau,’ kata Bung Karno kepadaku. Keempat jenderal itu lantas mengundurkan diri. Dan benar, itupun menjadi malam terakhirku berjumpa dengan Bung Karno,” sambung Wilardjito lagi.

Terlepas dari insiden itu, tentu publik masih kebingungan soal di mana Supersemar yang asli. Tiga versi yang kini tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) tak satu pun yang dinyatakan asli.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement