Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jalan Dibeton Tetangga, Warga Ciledug Terpaksa Keluar Masuk Rumah Lewat Kuburan

Hasan Kurniawan , Jurnalis-Jum'at, 12 Maret 2021 |18:34 WIB
Jalan Dibeton Tetangga, Warga Ciledug Terpaksa Keluar Masuk Rumah Lewat Kuburan
Akibat jalan depan rumah dibeton tetangga, satu keluarga ini bak terpenjara di rumah sendiri. (Foto: Hasan Kurniawan)
A
A
A

TANGERANG - Keluarga almarhum H Munir, warga Jalan Akasia, No 1, RT04/03, Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Banten, pasrah dengan ulah ahli waris yang menutup jalan depan rumahnya dengan tembok beton berduri setinggi 2 meter.

Untuk keluar rumah, mereka harus naik turun tangga kayu lalu melompati dua pagar beton yang menghalangi rumah.

Jalan ini sangat berbahaya untuk dilalui, apalagi jika membawa anak kecil. Salah-salah bisa terjatuh. Tetapi apa daya, mereka tidak kuat melawan. Alhasil, tembok belakang rumah yang berisi kuburan dijebol, agar bisa melintas dari sana.

Baca juga: Seorang Wanita Ditusuk Suaminya Sendiri saat Sholat Tahajud

"Ya terkadang lewat sini, tinggal geser dan angkat papannya. Takut awalnya. Tapi lama-lama biasa. Anak-anak juga berani," kata Anna Melinda (30), anak almarhum H Munir, saat ditemui di rumahnya, wilayah Tajur, Jumat (12/3/2021) sore.

Foto: Hasan

Rumah seluas sekira 1.000 meter yang ditempati Anna dan keluarganya saat ini merupakan bekas kolam renang. Sayang, kondisinya kini sangat tidak terawat. Kolam-kolam dibiarkan kering dan rusak.

Melewati kolam itu, terdapat tembok panjang yang di belakangnya kuburan. Pada salah satu sisinya, dekat kolam renang, tembok dijebol sebesar pintu dan dipasang papan sebagai penutup. Dari luar, papan ini bisa dengan mudah dibuka orang iseng.

Baca juga: Cerita Warga Ciledug Hidup Bak Terpenjara di Rumah Sendiri Akibat Jalan Dibeton Tetangga

"Pintu belakang memang sengaja dibuat agar bisa digunakan untuk jalan. Tetapi jarang digunakan. Kalau terpaksa saja. Pintu depan, meski sudah ditutup beton, kadang suka dilewati," sambungnya.

Sebelum banjir besar, akses jalan pintu depan masih dibuka. Anna dan keluarganya pun biasa lewat gerbang jika keluar masuk rumah. Tetapi pas banjir, saat tembok beton di depan rumahnya jebol, dia dan keluarganya kena marah pemilik tanah.

"Pas banjir, jalanan banjir. Tembok beton pada roboh. Nah Ruly (ahli waris) bilang, tembok itu kita yang robohin. Padahal mana bisa kita robohin tembok beton. Kemudian, jalan ditutup, dibeton," ungkapnya.

Anna dan keluarga pun tidak tahu penyebab ahli waris menutup akses jalan utama depan rumahnya. Saat melakukan pembetonan, adiknya sempat bertanya kenapa hal itu dilakukan, tetapi dijawab emosional.

"Tidak tahu, dia datang marah-marah bawa golok dan mengancam mamah saya dengan golok. Sekarang mamah saya sakit, kepikiran," ungkapnya.

Sejak akses masuk rumahnya ditutup, Anna sangat kesulitan. Pagar beton yang menutup rumahnya benar-benar membuat hidupnya terpenjara.

"Saya kalau mau antar les anak lewat pintu gerbang, pinjem kunci. Kadang dikasih. Tetapi pas sudah keluar, enggak bisa ngapa-ngapain lagi. Gak bisa masuk, harus manjat. Soalnya enggak dikasih kunci. Anak saya takut, dia lihat mamah diancam golok," ujarnya.

(Qur'anul Hidayat)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement