PELACURAN sudah merajelela sejak awal berdirinya kota Batavia lantaran kurangnya jumlah wanita Eropa. Hal itu terjadi di masa pemerintahan VOC akibat banyaknya para pendatang dari Eropa maupun China tanpa istri mereka.
Seperti dikemukakan Leonard Brusse dalam buku "Persekutuan Aneh", sejak awal berdirinya Batavia, Jan Pieterszoon Coen (JP Coen), Gubernur Jenderal wilayah kongsi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), melontarkan ketidaksenangannya terhadap maksiat. Seperti pergundikan, perzinahan, dan pelacuran. Kenyataannya, pelacuran merupakan masalah yang dihadapi kota ini.
Bahkan, orang nomor satu di Batavia itu pernah menghukum putri angkatnya, Sarah, yang kedapatan berzina dengan perwira muda VOC di kediamannya.
Si perwira ini dihukum pancung, sementara si gadis didera dengan badan setengah telanjang. Eksekusi dilakukan di balaikota (kini Museum Sejarah Jakarta, Jl Falatehan, Jakarta Barat).
Tapi Coen, dan kemudian para penggantinya tidak dapat membendung pelacuran. Apalagi Batavia banyak didatangi para pelaut mancanegara, setelah mendarat mencari tempat-tempat plesiran.