Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Keris Bisa untuk Investasi yang Prospektif

Doddy Handoko , Jurnalis-Minggu, 28 Maret 2021 |07:38 WIB
 Keris Bisa untuk Investasi yang Prospektif
Keris (foto: Dok Antara)
A
A
A

JAKARTA - Dunia perkerisan biasanya identik dengan kuno, orang jaman dulu , mistik dan hanya bisa untuk hobi. Tapi kini ternyata penggemar keris telah merambah ke anak muda dan keris dapat untuk investasi.

Kolektor keris Budiarto Danudjaja yang puluhan tahun berkecimpung di perkerisan mengungkapkan, terkejut ketika mendapati di sebuah seminar, penggemar keris ternyata semuanya orang muda.

Baca juga:  Peristiwa 28 Maret: Pangeran Diponegoro Diasingkan hingga Pesawat Garuda Indonesia Dibajak Teroris

Menurutnya, masuknya kaum muda di dunia perkerisan, berkat kemajuan teknologi informasi patut disyukuri. Tidak hanya membuat budaya lama seperti keris menjadi dihargai, akan tetapi juga membawa dampak kemajuan, angin segar yang baru bagi budaya nenek moyang yang sudah lama terlupakan.

Ia mengetahuI hal itu saat ikut Seminar Adopsi Keris beberapa waktu lalu.

"Penggemarnya orang muda semua. Luar biasa,” katanya dalam sebuah wawancara.

Baca juga:  Hukuman Mati Era Hindia Belanda, Digantung hingga Ditarik Kereta Kuda

Seminar Adopsi Keris di Museum Pusaka TMII diselenggarakan oleh anak-anak muda penggemar keris, yang berkelompok di grup Facebook Adopsi Keris.

Dikatakannya karena anak-anak muda berkeris, tidak heran jika pandangan dan persepsinya tentang keris berbeda.

“Sekarang anak-anak muda melihat keris sebagai investasi. Sebagai orang yang berpandangan lama, tidak perlu terlalu risau. Justru menurut saya, masuknya anak-anak muda dalam dunia keris, membuat keris jadi lebih dihargai,” ucapnya.

Fenomena itu membuat keris menjadi lebih dihargai, ketika ia mulai meminati keris pada sekitar 1996, di pedesaan masih banyak sekali terdapat keris-keris tua pada berkarat tak terurus.

Ia melihat anak-anak muda tidak hanya membersihkan keris-keris berkarat dengan cara tradisional, tetapi juga dengan cara evaporasi. Diuapkan, sehingga keris menjadi bersih luar biasa terlihat gurat lamanya.

“Karena keris dilihat sebagai investasi, tidak heran jika keris-keris berpamor Ron Kendhuru era Mataram saya beli di Madura seharga Rp 1,7 juta, sekarang ini bisa 20, 30 kali lipat harganya,” tuturnya.

Diterangkannya, antara investasi dan jualan berbeda. Perbedaanya adalah, pada dodolan (jualan), ketika membeli memang memperhitungkan untuk menjual kembali.

"Karena itu ketertarikan nilai pribadi harus juga disetimbangkan dengan selera orang banyak (pasar)," ucapnya.

Sementara pada investasi, ketika membeli memang juga memperhitungkan pertumbuhan kandungan nilainya di masa depan (future value-nya).

"Bisa dijual kalau kepepet. Bisa juga tidak pernah dijual dan tetap jadi kelangenan kita, sehingga ketertarikan pribadi menjadi pertimbangan lebih dominan," tuturnya.

"Tapi, what's wrong with dodolan Mas? Kalau tidak ada yang jualan, ya tidak ada yang bisa membeli, tidak ada yg bisa mengoleksi, bukan begitu?," tambahnya.

Baginya, jualan sepertinya sudah mewarnai hampir seluruh hidup manusia modern sebagai komunitas.

"Yang penting bukan dijadikan yang terutama, apalagi satu-satunya matra kehidupan kita saja. Moga-moga saya tidak berlebihan,"tandasnya.

Ia profesi terakhirnya dosen Departemen Filsafat Universitas Indonesia. Selama 26 tahun menggeluti dunia wartawan. 20 tahun di antaranya sebagai wartawan dan kemudian Redaktur Pelaksana harian Kompas. Berhenti jadi wartawan dan meneruskan studi filsafatnya.

Ia kelahiran Pekalongan. Mengaku ayahnya dulu adalah kolektor keris yang lebih berpaham mistik ketimbang keris sebagai hobi.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement